Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pilah-pilih Konsumsi Ikan Patin, Berlemak tapi Berkhasiat

izak-Indra Zakaria • 2021-03-15 09:31:03
Photo
Photo

Bertubuh memanjang, ikan patin (Pangasius sp.) menjadi salah satu yang digemari untuk konsumsi. Namun, masih banyak kontroversi seputar ikan tak bersisik ini. Terutama kandungan lemaknya yang disebut berbahaya bagi kesehatan.

 

Nutrisionis UPT Puskesmas Mangkupalas, Samarinda, Saiba menjelaskan, dalam 100 gram daging patin mengandung energi 374 kkal, 1,5 gram lemak, 11 gram Omega 3, 0 karbohidrat, 350 mg sodium, 14 persen AKG niacin, 19 persen AKG vitamin B12, dan 12 persen AKG selenium.

“Dari seluruh nilai gizi yang terkandung dalam patin terdapat 50 persen lemak tak jenuh,” jelas Saiba, Sabtu (13/3).

Lemak tak jenuh adalah asam lemak yang baik untuk tubuh. Jenis lemak yang juga dikenal dengan istilah unsaturated fat. Ini lebih sehat dari lemak jenuh dan banyak ditemukan pada sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan beberapa jenis ikan.

“Lemak tak jenuh bisa mengurangi lemak jenuh yang menumpuk dan menyumbat pembuluh darah,” terangnya.

Itu sebabnya mengonsumsi patin dalam batas wajar bisa bermanfaat bagi tubuh manusia. Di antaranya, menurunkan kolesterol, menyehatkan otot, menjaga kesehatan tulang, dan menjaga kesehatan janin jika dikonsumsi oleh ibu hamil.

“Batasan yang dianjurkan adalah 12 ons ikan per minggu. Dan sebaiknya konsumsi pula makanan yang bervariasi dengan bahan protein hewani lainnya,” ungkapnya.

Namun, perlu diwaspadai. Saiba menyebut, di habitat aslinya seperti sungai dan danau, ikan yang lebih banyak menghabiskan hidup di dasar sungai tersebut memiliki risiko terkontaminasi zat berbahaya. Bahkan sejumlah penelitian mengungkapkan fakta, di sejumlah wilayah sungai, habitat ikan patin yang terdapat industri telah terkontaminasi merkuri.

“Badan Kesehatan Dunia atau WHO pernah menguji. Di mana 50 persen sampel patin telah terpapar merkuri melewati batas rekomendasi,” ujarnya. Dampaknya, merkuri yang ikut masuk melalui patin ke tubuh manusia akan menumpuk. Dalam dosis rendah pun, jika diserap melalui saluran pencernaan akan menyebabkan gangguan imunitas dan kerusakan saraf.

“Pada dasarnya tidak masalah mengonsumsi ikan patin. Tetapi harus pahami betul asal ikan tersebut,” sebutnya. Saiba menganjurkan, sebaiknya membeli patin segar. Dibandingkan patin dalam bentuk olahan. Apalagi yang diimpor dari negara lain. Yang dipastikan mengandung bahan pengawet untuk menjaga kesegaran daging ikan.

“Ikan patin hasil budi daya juga tergolong lebih tinggi protein. Dengan syarat pemberian pakannya sesuai dan terkontrol,” ungkapnya. Menurut dia, tidak ada halangan bagi seseorang yang memiliki riwayat penyakit tertentu untuk mengonsumsi patin. Tetapi perlu dipahami batas dan sebaiknya menyajikan patin dibarengi dengan bahan lain yang mengandung protein nabati.

“Tidak ada pengaruh mau dikonsumsi dengan bahan lain. Terpenting dalam sajiannya mengandung gizi yang seimbang,” tuturnya.

UNGGULAN

Komoditas ikan ini pun jadi unggulan. Bahkan dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim pada 2014, usaha perikanan yang paling menguntungkan karena sesuai kondisi alam (perairan) baik sungai maupun danau (rawa) adalah budi daya ikan patin.

Di Kaltim, tak susah membudidayakan ikan ini. Dari laporan BPS yang bertajuk Kaltim Dalam Angka 2020, delapan kabupaten/kota di Kaltim memiliki budi daya patin.

Hanya Mahakam Ulu dan Balikpapan yang tak membudidayakan patin. Total yang dihasilkan selama setahun dari budi daya ini mencapai 10,35 ribu ton. Berbeda dengan ikan lain, misal ikan toman yang hanya dibudidayakan di Kukar dan Kubar. Juga mujair yang hanya ada di Kukar dan PPU.

Di Kaltim, budi daya patin paling banyak di Kukar. Sebanyak 9,9 ribu ton patin dihasilkan di Kukar. Biasanya patin dibudidayakan dalam keramba di sepanjang Sungai Mahakam maupun anak sungainya.

Di sisi lain, patin juga dibudidayakan melalui kolam. Namun, tidak hanya dibudidayakan, patin juga masih bisa ditemui di sungai-sungai secara alami. Pemerintah pun terus berupaya agar komoditas patin bisa makin unggul. Di pasar global, patin dikenal dengan nama “Indonesia pangasius”.  Pada 2018, pemerintah melakukan penelitian dan menghasilkan Patin Perkasa, singkatan dari Patin Super Karya Anak Bangsa, hasil inovasi riset Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Riset tersebut dilakukan oleh Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) melalui Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Salah satu lokasi riset berada di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Berbeda dengan patin biasa, Patin Perkasa memiliki berbagai keunggulan. Misalnya pertumbuhan dan produktivitas lebih cepat hingga 46 persen. Lalu rasio konversi pakan (FCR) lebih rendah 5,6–16,3 persen. Juga harga pokok produksi (HPP) lebih rendah 4,45–17,92 persen.

Dalam keterangan tertulisnya, peneliti BRPI Evi Tahapari menjelaskan latar belakang lahirnya Patin Perkasa ini. Menurut dia, sebelum 2010, perkembangan patin sangat heterogen di Indonesia. Pada umur yang sama, terjadi pertumbuhan yang berbeda-beda di berbagai lokasi di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan patin di Indonesia, masyarakat yang sudah bisa melakukan pemijahan sendiri menjadi tidak terkendalikan. Akibatnya terjadi penurunan genetik dan sejak pertama patin masuk ke Indonesia tahun 1972 belum ada upaya untuk memperbaiki genetik tersebut.

Karena itu, menurut Evi, pada 2010–2017, ia bersama tim melakukan seleksi patin dengan benih yang berasal dari Sukamandi, Jambi, dan Palembang, sebanyak dua generasi. Hasilnya sangat bagus, yakni respons seleksi menunjukkan angka 38,86 persen, sudah memenuhi persyaratan respons seleksi minimal 30 persen.

DISULAP JADI IKAN DORI

Manggala Mursalim, pengelola dan pembudi daya patin pemancingan Az Zahra di Balikpapan Utara membagikan sebuah informasi soal “memalsukan” daging ikan patin, khususnya yang sudah diolah menjadi daging fillet kemasan. Banyak pedagang bahkan swalayan besar yang menjual fillet daging patin dengan label fillet ikan dori. Ikan dori yang dimaksud di sini adalah ikan John Dory yang hidup di laut.

“Ini yang banyak saya temukan. Bahkan pernah di restoran mahal saya temukan. Aslinya daging ikan patin. Tetapi disebut ikan dori. Dan hanya yang biasa makan patin yang tahu rasanya,” bebernya.

Ini karena warna daging yang putih pada patin dan John Dory hampir serupa. Bahkan bagi orang awam akan menganggapnya sama. Meski begitu, ada tips untuk mengetahui bedanya jika dijual saat masih dalam kemasan. Meski sama-sama dilabelnya disebut ikan dori. Sama-sama daging filletnya putih, tapi harganya jauh beda.

“Kalau fillet ikan dori asli yang pernah saya beli itu Rp 130 ribu per kemasan. Kalau patin paling hanya Rp 60 ribu,” sebutnya.

Terkait hal ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pun pada 2020 lalu memastikan, ikan dori fillet yang banyak dijual di Indonesia berasal dari daging patin. Dori sebenarnya digunakan sebagai merek dari produsen ikan yang berbasis di Vietnam. Namun, orang-orang justru menyangka kalau dori adalah nama jenis ikan.

"Dori sebetulnya itu sama dengan patin. Tapi umum mengetahui kalau namanya dori itu produk olahan dari luar. Yang produk Indonesia kita lebih sering menyebutnya dengan patin," kata mantan menteri KKP Edhy Prabowo.

Mantan menteri KKP Susi Pudjiastuti pun menyebut di media sosialnya. Lewat komentarnya, Susi berpesan agar lebih hati-hati memilih dan membeli dori khususnya yang diimpor dari Vietnam.

"Hati-hati dengan yang impor dari Vietnam. Juga yang memakai pemutih dan cairan pelapis. Beli ikan tenggiri, mujair, bandeng segar lebih sehat," ujar Susi. Dia juga menjelaskan kalau dori dan patin sebenarnya berasal dari jenis yang sama.

"Dori dan patin adalah jenis ikan yang sama-sama. Yang tidak tahu yang beli dikira ikan dori itu bukan ikan patin. Yang bodoh yang merasa lebih bergengsi makan ikan dori daripada ikan patin," beber Susi.

Jika menemukan ikan fillet dengan merek Dori, itu artinya ikan patin yang berasal dari Vietnam. Sebenarnya di Indonesia, sudah ada produsen patin yang berkualitas.

Sebenarnya, patin fillet menduduki posisi sebagai produk populer di retail modern untuk konsumen rumah tangga, industri jasa makanan, hotel, restoran, catering (horeca) dan penerbangan. Tetapi, kendala utama adalah masyarakat yang sudah telanjur salah kaprah, ditawarin dori mau, tapi begitu ditawarin patin tidak mau.

Hal ini salah satu praktik mislabelling atau pelabelan nama ikan yang salah. Masyarakat pun diajak untuk membeli produk patin dalam negeri. Indonesia sudah punya brand "Indonesian Pangasius-The Better Choice" sejak dua tahun lalu. Brand ini merepresentasikan produk pangasius Indonesia yang lebih baik dari para pesaingnya. Apalagi Pangasius Indonesia dikembangkan dengan probiotik, bukan dengan antibiotik, sehingga menjadi pilihan yang sehat. Selain itu, pangasius Indonesia dibudidayakan di kolam dengan air tanah yang bersih dengan kepadatan yang lebih rendah.

Edukasi terkait dori dan patin ini sangat penting dilakukan. Sebab, anak muda mulai menggemari produk olahan ikan. Fillet patin termasuk yang sering disajikan di restoran atau kafe sebagai makanan fish and chips. (***/dwi/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria