Tanto Intim Line berangkat dari usaha rumahan Herman Hartanto di Surabaya. Lima dekade kemudian, perusahaan pelayaran tersebut memiliki lebih dari 50 armada kapal serta puluhan ribu kontainer yang menjelajah Nusantara.
Mochamad Salsabyl Adn, Surabaya, Jawa Pos
INTIM. Nama itu sudah melekat setelah Tanto selama puluhan tahun sebagai identitas perusahaan pelayaran asal Surabaya. ’’Artinya bukan mesra lho,’’ celetuk Direktur Informasi dan Transformasi Tanto Intim Line Agung Prayitno saat ditemui Jawa Pos di kantor pusat di Surabaya Selasa lalu (30/3).
Kalau nama Tanto, sudah jelas kependekan dari Herman Hartanto, sang pendiri perusahaan pelayaran tersebut. Cocok juga untuk mewakili marga pria Hokkian tersebut: Tan.
Lalu, bagaimana dengan intim? Itu singkatan dari Indonesia Timur. Kali pertama berbisnis, Herman memang mendapat rute pelayaran Surabaya–Ambon. ’’Karena itulah, Indonesia Timur menjadi akar dari perusahaan,’’ ungkap Direktur Operasional Tanto Intim Line Arfan Hani.
Pelayaran ke timur bukan rute favorit perusahaan pelayaran. Baik saat ini, terlebih lagi dulu. Alasannya banyak. Misalnya, infrastruktur yang tak sematang pelabuhan Indonesia sebelah barat. Atau, pasarnya tak segemuk kota-kota besar.
Tapi, Herman bersama istri, Loesiana, dan dua karyawan nekat untuk mengoperasikan satu kapal, KM Tanusi, dan menekuni rute tersebut. Kapal yang dulu tiga tahun mangkrak karena mesinnya rusak. Dari sana, rute-rute Indonesia Timur lainnya mulai terbuka, antara lain Surabaya–Ternate.
General Manager Tanto Intim Line Hein Moningka mengatakan, Herman bersama sang istri, Loesiana, dan dua karyawan memang nekat. Pria yang bekerja di Tanto Intim Line sejak perintisan itu mengaku bahwa perusahaannya berdarah-darah di tahun-tahun pertama. Baru pada 1999, saat perusahaannya membuka cabang Jakarta dan menjamah rute Indonesia Barat, pihaknya mulai melihat keuntungan.
Mulai Medan, Sumatera Utara, tempat kelahiran Herman, sampai pelayaran ke Ogan Komering Ilir di Palembang, Sumatera Selatan, disentuh. ’’Kami berangkat dari satu kapal dengan kapasitas 700 DWT (deadweight ton, Red) sampai kini punya puluhan armada dengan kapasitas sampai 35 ribu DWT,’’ imbuh Arfan.
*
Bagi Vence Pattiwael, ada tiga tanggal yang diingat jelas saat dirinya berusia 25 tahun. Yakni, 19 Januari, 12 Mei, dan 27 Juli. Pada Januari, kerusuhan pertama di Ambon membuat hatinya berdegup. Pada 12 Mei, hatinya kembali berdegup karena alasan lain. Dia mengikat janji pernikahan dengan sang istri. ’’Saya ingat jelas. Iring-iringan Pak Wiranto yang sedang berusaha menenangkan kerusuhan ada di belakang mobil saya,’’ kenang pimpinan cabang Ambon dan Tual di Tanto Intim Line tersebut.
Bulan Juli, hati Vence hancur. Kerusuhan kembali muncul dan berujung ke konflik berkepanjangan di ibu kota Maluku tersebut. Saat itu Ambon terbagi menjadi dua. Masyarakat di pesisir dan masyarakat di pusat kota.
Di Surabaya, Herman Hartanto dan anak buah berpikir keras. Ketika damai saja, tak banyak pelayaran yang mau melayani rute Ambon. Apalagi saat Ambon melalui konflik sektarian berkepanjangan. Beberapa shipping line memilih menghentikan operasi mereka.
Tapi, Herman tetap memberangkatkan kapalnya ke Ambon. Arfan mengatakan, niat pimpinannya jelas saat itu. Bukan untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. Melainkan untuk menyelamatkan Ambon dari konflik yang lebih besar.
Jika ditambah dengan persediaan bahan pokok dan barang yang menipis, konflik bukan lagi soal ideologi. Melainkan perebutan barang penyambung nyawa seperti pangan.
’’Kalau bapak (Herman, Red) mau cari untung, bisa saja dia naikkan jasa shipping selangit karena alasan keamanan. Tapi, tidak ada kenaikan harga, bahkan saat konflik terjadi,’’ ungkapnya.
Arfan memaparkan, barang yang mencapai Ambon di era itu harus melalui proses ruwet dan berbahaya. Dari pelabuhan, bongkar muat dilakukan pekerja yang tinggal di pesisir. Diangkut dengan truk perbatasan. Di sana, sopir diganti dengan warga kota. Begitu juga sebaliknya.
Perusahaan harus berkomunikasi dengan dua perwakilan. Sama-sama karyawan perusahaan, namun mereka tak bersua kecuali di pos perbatasan.
’’Kalau situasinya tegang, kami sampai harus lempar-lemparan dokumen. Setelah itu cepat-cepat lari cari persembunyian,’’ ungkap Vence.
Baru pada 2004, karyawan dua kubu itu bersatu kembali. Loesiana dan Direktur Marketing Mo Ming Hartanto datang langsung ke Ambon untuk mempertemukan semua karyawan Tanto Intim Line di Ambon.
*
Soal melayani daerah yang kurang seksi atau bahkan berbahaya, itu sudah mendarah daging bagi Tanto. Saat muda, dia nekat datang ke Jakarta untuk melihat Asian Games 1962. Semenjak itu, dia memutuskan tak melanjutkan pendidikan SMA-nya di Medan dan mencari kerja di ibu kota. Semua pengalamannya berujung pada pendirian bisnis pelayaran tersebut.
’’Prinsip kami memang sedikit nekat untuk melayani masyarakat. Dengan begitu, pelanggan pun tahu bahwa kami memang konsisten dan kami pun terus dipercaya,’’ jelas Arfan.
Prinsip tersebut pun dipakai hingga saat ini. Sering kali pembukaan cabang baru Tanto berdasar ajakan pemerintah untuk menguatkan ekonomi daerah-daerah yang belum berkembang. Soal potensi konflik, itu bisa dipikir pelan-pelan.
Dia mencontohkan pembukaan cabang Tobelo di Halmahera Utara pada 2017. Saat itu dia mengatakan bahwa Menko Maritim Luhut Pandjaitan meminta agar pelabuhan itu bisa menjadi pusat ekspor ikan Provinsi Maluku Utara.
’’Baru saja kami juga dipanggil Pak Jokowi soal ekspor ikan Pelabuhan Tulehu. Beliau juga meminta tolong agar Tanto bisa membawa layanan kapal kontainer ke Labuan Bajo untuk menunjang tol laut serta perekonomian NTT. Kami langsung buka rute ke Labuan Bajo 9 April nanti,’’ jelasnya.
Agung menambahkan, Tanto Intim Line juga menggabungkan teknologi baru bersama kenekatan tersebut. Pihaknya sebagai penyedia layanan harus memberikan kepuasan terhadap konsumen. Karena itu, mereka menyediakan fasilitas untuk tahu posisi barang pelanggan.
Mereka juga menyediakan fitur transaksi cashless agar klien lebih mudah. Keperluan besar sampai remeh-temeh seperti gembok kontainer bisa dibayar tanpa harus datang ke kantor. ’’Semua sudah bisa dilihat dari ponsel klien. Barang sedang dimuat, dibongkar, atau sudah keluar dari pelabuhan juga akan ketahuan,’’ paparnya.
Pada akhirnya, Tanto Intim Line ingin bisnis pakai hati. Karena itu, mereka lebih berpikir bagaimana pelayanan membantu Indonesia juga membantu pelanggan. Kalau masyarakat di rute sudah sejahtera, perekonomian juga pasti lancar. Di sana, pelayaran yang sudah berlayar 50 tahun itu bakal terus berkiprah. (*/c19/ttg)
(Dilengkapi wawancara Dahlan Iskan dengan Herman Hartanto yang terbit di Jawa Pos edisi 8 Oktober 2009)
Editor : izak-Indra Zakaria