Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Suplai Sapi Presiden dan Berdayakan Puluhan Karyawan

izak-Indra Zakaria • Selasa, 19 Juli 2022 - 21:10 WIB
Photo
Photo

Tahun ini, permintaan hewan kurban cukup tinggi. Menjadi ajang “panen” bagi para peternak. Bergerak di penggemukan, peternak di Lempake ini mencoba pembibitan untuk perlahan penuhi kebutuhan lokal.

RADEN RORO MIRA, Samarinda

MULANYA pada 2007, Moko Prasetyo mencoba peruntungan lewat ternak kelinci. Kurangnya antusiasme pasar membuat bisnis itu terpaksa dia tutup. Kemudian coba beralih ke ternak sapi. Dan kala itu juga dia dibantu seorang teman.

“Jadi, ada sapi teman yang sisa kurban itu waktu 2009, akhirnya kelinci saya jual untuk jadi modal ganti sapi itu. Mulai fokus dan ternyata ada potensinya di situ. Saya coba di penggemukan, pakannya kan juga mudah,” beber Moko.

Dijelaskan, jika modal sapi jantan yang dia beli pertama kali adalah Rp 7 juta. Setelah beberapa bulan dan gemuk, ternyata ada untung Rp 3 juta yang dia dapat. Hingga dari situ, perlahan tapi pasti usahanya berkembang.

Hingga pada 2010, dia memutuskan mengambil Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Mulawarman. Selain teori dan pengalaman yang berjalan, kini dia miliki kandang dengan kapasitas 250 ekor sapi.

Puncak usahanya adalah setiap momen Hari Raya Iduladha, di mana banyak masyarakat yang membeli hewan kurban. Tahun lalu, dia mencatat 180 sapi di tempatnya terjual dan tahun ini 250.

Hal itu didukung dengan kesiapan kandang yang dia milikinya. Sehingga, bisa lebih banyak menampung hewan kurban. “Plus satu dari Pak Presiden Jokowi yang beratnya sekitar 827 kilogram. Itu ada kompetesinya, dari segi kesehatan, fisik sampai bobot. Jadi, kan beliau memang ada kurban setiap provinsi ya, dan di Kaltim untuk tahun ini ambilnya di tempat saya,” kata pria kelahiran 1991 itu.

Diakui jika memang untuk budi daya sapi di Samarinda dan Kaltim secara luas memang belum banyak. Justru, sapi miliknya diambil dari petani yang sebagian besar berada di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Jadi, ada mitra atau relasi di sana. Bahasanya, selain ambil sapi kurus di sana, juga ada penggemukan di sana. Sekitar 1-2 bulan baru dikirim ke sini. Setiap hari, juga saya suplai ke RPH (rumah potong hewan). Kalau bicara kebutuhan ya kurang ya masih. Permintaan potong di Samarinda itu satu hari rata-rata 20 ekor, berarti kan sebulan 600 ekor. Saya hanya mampu 1-2 ekor saja. Termasuk relasi mulai dari Balikpapan, Bontang, Tenggarong,” paparnya.

Tingginya permintaan sapi tahun ini juga pengaruh dari penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyebar di daerah Jawa. Moko mengatakan, jika mitranya di NTT sejauh ini masih aman. Sejauh ini, diakui jika usaha yang dia kembangkan sejak 2009 masih fokus pada penggemukan. Namun, dia perlahan sudah mencoba untuk pembibitan atau budi daya.

“Perlu lahan luas juga. Sapi ini bukan semakin mudah didapat, tapi malah susah. Jadi, persiapkan dari sekarang. Bicara Kaltim, enggak bisa diharapkan dari ternak sendiri. Ini sudah jalan (pembibitan) tapi masih belum fokus. Tahap percobaan di daerah Paser tempat mertua, terintegrasi sama sawit. Saya lihat ada potensi di sana. Jadi, kan sawit dapat pupuknya, sapi juga dapat rumputnya,” beber dia.

Percobaan itu sudah berjalan dua tahun. Sambil dia pantau bagaimana progresnya. Diakui masih skala kecil. Sebab diakui perlu waktu, termasuk bagaimana pengaruh dari sisi lingkungan hingga masyarakat sekitar. “Tinggal cari investor dan lihat potensi ke depan,” lanjut Moko.

Bicara pakan, dia mengaku tak ada kesulitan. Samarinda termasuk daerah yang potensial terkait rumput. “Beda di daerah NTT yang ada musim kemarau, di sini kan hijau-hijauan itu enggak usah risau. Pakan tambahan juga ada, limbah sayur di pasar yang aman untuk sapi juga ada sampai ampas tahu,” kata dia.

Dia juga memiliki lahan khusus untuk rumput. Moko menjelaskan jika saat ternak kelinci dulu, biaya pakan justru lebih tinggi. Sedangkan sapi yang termasuk kelompok ruminansia atau pemamah biak (makanan utama adalah tumbuhan), justru memiliki biaya pakan lebih murah.

Usahanya kini juga memberi dampak ekonomi di daerah tempat tinggalnya, Lempake, Samarinda. Sedikitnya 22 orang yang bekerja membantunya menjalankan usaha.

Usaha di bidang peternakan sapi menurut Moko sangat potensial. Mengingat tingginya kebutuhan sedangkan ketersediaan untuk skala lokal sedikit. Oleh sebab itu, dia berharap pembibitan yang sedang coba dijalankan dapat berjalan mulus. (ndu/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria