Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Harga Telur Ayam Stabil Mahal, Belum Ada Tanda-Tanda Turun, Kenaikan Picu Inflasi

izak-Indra Zakaria • Senin, 5 September 2022 - 16:07 WIB
KPPU mengecek ketersediaan telur ayam di peternakan.
KPPU mengecek ketersediaan telur ayam di peternakan.

Warga Kaltim tampaknya harus bisa bersabar. Naga-naganya, harga telur ayam belum akan turun dalam waktu dekat.

 

BALIKPAPAN-Melonjaknya harga telur ayam di Indonesia selama Agustus ternyata berdampak pada inflasi dari kelompok makanan dan minuman. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat telur ayam ras mengalami inflasi sebesar 2,87 persen (month to month/mtm). Sehingga memberikan andil inflasi terhadap kelompok makanan dan minuman yang inflasinya mencapai 0,22 persen.

Di Kaltim, hingga memasuki September harga telur ayam pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun. Hal itu disebut dipicu berbagai faktor. Mulai harga pakan ternak hingga lonjakan harga bibit ayam. Namun, ada pula faktor lain yang terungkap dari temuan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah (Kanwil) V Balikpapan.

Kepala KPPU Kanwil V Balikpapan Manaek SM Pasaribu menjelaskan, setelah ramai pemberitaan terkait kenaikan harga telur, pihaknya melakukan peninjauan ke pasar-pasar di Balikpapan pada akhir Agustus lalu. Dilakukan pengumpulan data dan informasi dari sejumlah pedagang telur ayam. Seperti di Pasar Pandansari dan Pasar Klandasan. “Hasilnya, telur ayam yang beredar di Balikpapan masih bergantung pasokan dari Pulau Jawa dan Sulawesi,” jelas Manaek, Kamis (1/9).

Selanjutnya, harga telur ayam di Kota Minyak berada di kisaran harga Rp 1.900–Rp 2.000/butir atau Rp 59.000 per rak/piring untuk telur dari Balikpapan. Sedangkan telur yang didatangkan dari Surabaya berada di kisaran harga Rp 2.000 – 2.100 per butir atau Rp 62.000 per rak.

Jika dikonversi ke kilogram, seperti satuan yang digunakan di Pulau Jawa, harga telur berada di kisaran Rp 29.000 untuk telur dari Balikpapan dan Rp 31.000 untuk telur dari Surabaya.

“Harga telur tersebut tidak mengalami perubahan sejak sepekan terakhir. Informasi tambahan yang diperoleh, stok telur ayam sampai saat ini di Balikpapan cukup aman,” ucap Manaek.

Pihaknya meninjau langsung ke produsen telur ayam di Balikpapan untuk memastikan bahwa tidak terjadinya kelangkaan. Termasuk mendengar keluhan dari peternak untuk menjaga kualitas dan kuantitas telur ayam lokal. Keterangan dari peternak lokal, telur lokal hanya mampu memenuhi 40 persen keperluan pasar. Selebihnya, 60 persen dari Pulau Jawa dan Sulawesi,

“Dari informasi yang dihimpun faktor yang menyebabkan harga telur ayam mengalami kenaikan, yaitu adanya lonjakan harga bibit ayam dan harga pakan ayam. Di mana, kedua variabel tersebut didatangkan dari Jawa,” terangnya.

Saat ini, harga telur ayam yang dijual dan diedarkan kepada pengumpul berdasarkan kualifikasi grade. Untuk grade A dengan berat 1,8 kilogram - 2 kilogram per piring dijual dengan harga Rp 54.000 (Rp 1.800 per butir). Lalu grade B dengan berat 1,7 kilogram per piring dijual dengan harga Rp 50.000 (Rp 1.700/butir). Terakhir, grade C dengan berat 1,6 kilogram per piring dijual dengan harga Rp 48.000 (Rp 1.600/butir). “Harga itu dari produsen, jika tambah dengan biaya angkut biasanya harga naik berkisar Rp 1.500-Rp 2.000/rak,” beber Manaek.

Dia menyebut, KPPU Kanwil V Balikpapan akan terus mengawasi dari hulu hingga hilir komoditas telur ayam dan mengimbau agar produsen, distributor, dan pedagang eceran tidak menetapkan harga yang eksesif setelah isu kenaikan telur di Pulau Jawa. Jangan sampai Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) mengatur harga jual telur ayam di daerah.

“Ketika dilakukan sidak (inspeksi mendadak) di lapangan, sebagian peternak mengaku bila harga yang berlaku merupakan ketetapan dari Pinsar,” ungkapnya.

KPPU Kanwil V akan terus memantau kenaikan harga telur ayam khususnya di wilayah kerja mereka dan turun ke lapangan melakukan validasi bila terjadi potensi pelanggaran persaingan usaha tidak sehat. “KPPU sesuai UU 5 Tahun 1999 akan melakukan upaya pencegahan dan penegakan hukum bila diperlukan,” lanjutnya.

DUA MINGGU HARGA TURUN

Melambungnya harga telur sempat membuat dua menteri saling bantah soal penyebabnya. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyatakan, bahwa pemicunya adalah bantuan sosial. Namun, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini menepis bahwa tidak ada program bantuan dari kementerian yang dipimpinnya dalam bentuk beras atau telur.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menegaskan, bahwa kenaikan harga telur bukan karena program bantuan pangan nontunai. ”Ada juga demand yang dibagikan ke warga, sama saja mutarnya ke masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, harga-harga bahan pokok sebenarnya relatif stabil. “Hanya satu, telur (yang naik). Pertama, karena harga pakan ternak yang naik. Kedua, ini fluktuatif biasa. Nanti, dua minggu ini insyaallah (harga telur) akan turun,” ungkapnya.

Pada Kamis (25/8), Zulkifli juga menjanjikan harga telur turun dalam dua pekan. Di banyak kota di berbagai provinsi, harga telur berkisar Rp 30 ribu–Rp 40 ribuan per kilogram. Padahal, sebelumnya harga telur paling mahal mencapai Rp 23 ribu–Rp 26 ribuan per kilogram. (rom/k15)

 

 

M RIDHUAN

mad.dhuan@gmail.com

Editor : izak-Indra Zakaria