Pemprov Kaltim menghentikan sementara pengiriman sapi dari Jawa. Selain mengantisipasi penularan virus PMK, kini ditemukan penyakit lumpy skin disease (LSD) pada hewan ternak di Jawa yang diklaim lebih berbahaya ketimbang PMK.
SAMARINDA - LSD adalah penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh lumpy skin disease virus (LSDV). Ini virus bermateri genetik DNA dari genus Capripoxvirus dan famili Poxviridae. Virus ini umumnya menyerang sapi dan kerbau.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kaltim Fahmi Himawan mengatakan, penularan LSD secara langsung bisa terjadi melalui kontak dengan lesi kulit. Namun, virus LSD juga diekskresikan melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, semen, dan susu. Penularan juga dapat terjadi secara intrauterine.
Secara tidak langsung, penularan terjadi melalui peralatan dan perlengkapan yang terkontaminasi virus LSD, seperti pakaian kandang, peralatan kandang, dan jarum suntik. Penularan secara mekanis terjadi melalui vektor, yaitu nyamuk (genus aedes dan culex), lalat (Stomoxys sp, Haematopota spp, Haematobia irritans), migas penggigit dan caplak (Rhipicephalus appendiculatus dan Amblyomma hebraeum).
“Kami sementara tidak izinkan sapi dari Jawa masuk Ke Kaltim, karena ada penyakit lain yang sebenarnya jauh lebih berbahaya dari PMK, yaitu penyakit LSD,” ucapnya, Minggu (2/4).
Penyakit LSD menyerang hewan sapi, kerbau, dan beberapa jenis hewan ruminansia liar. Penyakit ini lebih berbahaya dari PMK, karena PMK itu hanya menimbulkan kerugian secara ekonomi tapi daging tetap bisa dikonsumsi. Atau tidak zonasis. Berbeda dengan LSD, selain bisa menyebabkan kematian pada ternak dagingnya juga tidak layak untuk dimakan.
Secara visual saja memang sampai ke daging, seperti bentol-bentol, sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman untuk memakan daging. “LSD ini sudah masuk ke Sumatra dan Jawa termasuk Jatim, karena itu sementara ini tidak izinkan sapi dari Jawa masuk ke Kaltim,” ungkapnya.
Fahmi mengatakan, pihaknya telah memiliki surat nomor kontrol veteriner (NKV) untuk mengontrol daging produk hasil ternak ASUH (aman, sehat, utuh, dan halal). Kaltim mendatangkan sapi dari luar Kaltim dari NTB untuk sapi bibit, kemudian sapi potong dari NTT dan Sulawesi. Setelah PMK ini dari Jawa sapi memang belum didatangkan lagi.
Populasi besar ada di NTT, NTB, Bali, dan sebagainya, paling banyak masuk sapi potong yang dari NTT. Selain itu, NTT ini jalurnya masih zona hijau dan sangat ketat. Dengan adanya PMK memang menjadi kehati-hatian, untuk mendapatkan sumber dari mana sapi itu masuk.
Kondisi peternakan di Kaltim mengalami dinamika yang berkembang, dikarenakan memang sebagaimana diketahui, peternakan tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan. “Kita sangat butuh yang daging, baik itu daging merah dari sapi, kerbau, kambing dan sebagainya maupun daging putih dari unggas beserta telur. Ini merupakan kebutuhan utama dalam rangka memastikan di Kaltim adalah masyarakat kebutuhan akan asupan protein yang ASUH terpenuhi,” pungkasnya. (adv/diskominfo/ndu/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria