TANJUNG REDEB – Manajemen PAMA Distrik BRCB bersama Berau Coal, memperingati Hari Bumi pada 22 April lalu dengan melakukan penanaman pohon di area yang dulunya merupakan lingkup dari flora dan fauna.
Hari Bumi kali ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia yaitu bumi, dengan melakukan kembali penanaman pohon. Agenda ini merupakan inisiasi dari PT Berau Coal, diyakini hasil menanam yang dilaksanakan Jumat (12/5) ini akan dinikmati hingga ratusan tahun mendatang.
Deputi Project Manager PAMA BRCB, Gunarto, mengatakan, perayaan bumi dan lingkungan ini adalah peristiwa sejarah yang terjadi setiap tahun. Di Hari Bumi, seluruh masyarakat akan mengenang betapa eratnya manusia terhubung dengan bumi, serta tanggung jawab untuk melindunginya.
“Jadi kami ingin, terus melestarikan hutan yang ada di Berau ini. Semua peran memiliki peran penting untuk mengatasi permasalahan besar di bumi saat ini, yaitu perubahan iklim,” ucapnya.
Kegiatan Jumat Hija ini diberi tema Invest In Our Planet. Berbagai jenis pohon ditanam, antusiasme peserta yang hadir begitu tampak. Semangat gigih untuk menghijaukan. Selain melakukan penanaman pohon, Gunarto juga mengatakan, banyak hal yang bisa dilakukan demi menjaga bumi, misalnya tidak membuang sampah sembarangan.
Kemudian, Hari Bumi juga dapat diperingati dengan mengolah sampah organik menjadi kompos atau mendaur ulang. Selain itu, dapat juga diperingati dengan kegiatan menanam dan merawat tanaman.
Lalu, membuat lubang resapan biopori dapat menjadi aktivitas yang berguna saat Hari Bumi. Menghindari penggunaan barang sekali pakai yang berlebih, serta menghemat air, listrik, dan bahan bakar. “Banyak hal yang bisa dilakukan, menyelamatkan bumi dari kehancuran,” tambahnya.
Terlaksananya penanaman kembali pohon ini adalah salah satu bentuk komitmen dan tanggung jawab PAMA dan Berau Coal dalam melakukan konservasi, mengembalikan fungsi hutan dan mengurangi efek dari gas rumah kaca, serta meningkatkan kepedulian dari karyawan terhadap pentingnya menjaga bumi.
“Yang terpenting saat ini, karyawan paham akan fungsi hutan. Demi keberlangsungan masa depan dan anak cucu kita, serta kami juga selalu diberikan keselamatan dan keberkahan dan segala aktivitasnya,” ujarnya.
Ditambahkannya, di Indonesia, peringatan dan perayaan Hari Bumi sebenarnya belum banyak diketahui masyarakat umum. Hal ini berbeda dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 5 Juni.
Pada dasarnya, tidak ada perbedaan antara Hari Bumi Sedunia dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang membedakan hanyalah ada pada sejarahnya. Awalnya United Nation (UN) memperingati hari Bumi sedunia pada tanggal 20 Maret yang merupakan sebuah tradisi dari aktivis perdamaian John Mc Connell pada tahun 1969.
Tanggal tersebut merupakan hari dimana matahari berada tepat di atas khatulistiwa, atau dikenal dengan istilah Ekuinoks Maret. Hingga pada saat ini, Hari Bumi telah diperingati sebanyak 175 negara dan secara global telah dikoordinasi oleh Jaringan Hari Bumi atau Earth Day Network.
Dengan adanya peringatan Hari Bumi Sedunia ini, diharapkan dapat meningkatkan kepedulian manusia terhadap bumi. Jangan jadikan hari bumi sedunia sekadar ajang berkumpul mencemaskan bumi, namun tanpa tindakan nyata menjaga.
Jangan pula dengan berkumpul untuk memperingati Hari Bumi Internasional, justru malah membuat bumi banyak dipenuhi sampah karena aktivitas tersebut. Kelestarian bumi perlu ditanamkan pada diri masing-masing individu sedini mungkin dan secara berkesinambungan.
“Tugas untuk menjaga bumi tidak hanya tugas dari satu orang saja, melainkan tugas dari semua orang yang bertempat tinggal di bumi,” tutupnya. (hmd/adv/sam)
Editor : uki-Berau Post