Pemerintah terus berupaya mendorong percepatan UMKM naik kelas. Dalam membantu upaya tersebut, Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) bertemu UMKM di Kota Minyak. Melihat penggiat UMKM industri makanan minuman (mamin) Serta memberi edukasi manfaat dan nilai tambah dari penggunaan bahan baku gula rafinasi terhadap produk mamin.
KEGIATAN bertajuk AGRI Ngobrol Bareng ini sejatinya rutin digelar di beberapa kota sejak 2021. Namun tahun ini, AGRI menyasar UMKM di Kaltim khususnya Balikpapan. “Kami ingin melihat potensi di daerah yang belum terjamah, memiliki pabrik gula rafinasi atau koperasi sebagai distributor,” ucap Direktur Eksekutif AGRI Gloria Guida Manalu, kemarin (27/9).
Saat ini, terdapat 11 pabrik gula rafinasi di Tanah Air. Sebagian besar berada di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Sebagai informasi, AGRI merupakan suatu wadah yang memiliki anggota para pengusaha produsen gula rafinasi di Indonesia. Ini sebagai suatu bentuk forum komunikasi, edukasi, informasi, serta promosi tentang produksi gula rafinasi bagi industri nasional.
Termasuk mendukung UMKM industri mamin dalam memenuhi kebutuhan gula kristal rafinasi. Sehingga, standar mutu produk UMKM meningkat dengan penggunaan gula kristal rafinasi sebagai bahan baku. Selain kunjungan ke beberapa industri mamin skala UMKM, AGRI membuka diskusi bersama UMKM di Hotel Golden Tulip, Selasa (26/9).
Turut menghadirkan narasumber dari kementerian dan lembaga terkait. Di antaranya, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi UKM Kaltim, Dinas Perdagangan Balikpapan. Selanjutnya, Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Balikpapan, Loka POM Balikpapan, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Samarinda.
AGRI mengundang 25 UMKM industri mamin yang berada di Kota Beriman dalam diskusi tersebut. Gloria menuturkan, proses produksi industri mamin tentunya memerlukan gula sebagai bahan baku utama maupun pendukung. Pihaknya ingin mendengar secara langsung kondisi yang terjadi di lapangan saat ini.
Baik dari para pelaku usaha industri mamin maupun dari para pemegang regulasi. Gloria menuturkan, Balikpapan memiliki industri pengolahan mamin yang manis. Seperti pia, bingka, mantau, dan lain-lain. Hal yang menjadi perhatian AGRI karena Balikpapan sampai saat ini belum mempunyai koperasi penyalur gula kristal rafinasi.
“Karena gula rafinasi ini hanya dapat disalurkan melalui badan usaha berbentuk koperasi. Selanjutnya, koperasi menyalurkan untuk UMKM di daerah,” tuturnya. Gloria menambahkan, gula rafinasi memang diatur khusus industri, bukan untuk masyarakat umum. Sehingga, memiliki penyaluran yang ketat.
Kondisi ini menjadi pertimbangan kuat bagi AGRI untuk melihat secara langsung bagaimana produksi UMKM di Balikpapan. Pihaknya ingin mengetahui industri makanan dan minuman manis di Balikpapan belum menggunakan gula kristal rafinasi hingga kendala di lapangan.
“Total, kami mengunjungi enam UMKM pelaku industri makanan dan minuman. Semuanya belum ada yang menggunakan gula rafinasi sebagai bahan baku produksi mereka,” sebutnya. Berdasarkan hasil kunjungan, AGRI juga akan mengidentifikasi dan problem shopping bersama pihak terkait.
Menurutnya, dengan penggunaan bahan baku yang berkualitas tinggi dan harga bersaing, industri mamin dapat semakin berpotensi menghasilkan produk optimal. “Semoga dalam waktu dekat dapat dilakukan identifikasi bersama mencari solusi tercepat dan terbaik bagi UMKM Balikpapan,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua I AGRI Supriadi menambahkan, diskusi ini merupakan wadah bagi AGRI untuk berperan secara langsung kepada UMKM. Sebagai mitra pemerintah, AGRI memberi sosialisasi kebijakan dan peraturan baru. “Sekaligus berdiskusi dengan UMKM tentang tantangan-tantangan yang dihadapi,” tuturnya.
UMKM yang dikunjungi selama dua hari kegiatan bervariasi. Mulai mamin tradisional sampai kue pangan kekinian. Seperti Gulung Jenebora dan Cake Salakilo. “Kami harap, UMKM dapat merasakan manfaat gula rafinasi agar produknya semakin berdaya saing dan berkembang,” pungkasnya. Ini sesuai program pemerintah UMKM naik kelas. (ndu/k15)
DINA ANGELINA
dinaangelina6@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria