DIpicu Ongkos Perawatan, Harga Sapi Kurban di Tarakan Melonjak
Radar Tarakan• 2024-05-24 13:15:00
ilustrasi sapi
Prokal.co - Sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, jumlah konsumsi daging sapi di Indonesia cukup besar, apalagi dalam momentum tertentu antusias masyarakat untuk membeli sapi cukup besar lantaran berhubungan dengan agenda keagamaan seperti Hari Raya Idul Adha.
Sehingga hal ini menjadi peluang usaha sebagian masyarakat untuk berniaga hewan pemakan rumput tersebut.
Kendati demikian setiap tahunnya pelaku usaha sapi menemukan kendala beragam mulai dari wabah, pakan maupun kebutuhan perawatan sapi seperti obat-obatan dan vitamin. Sehingga hal itulah yang menjadi kendala pelaku usaha dalam menggeluti usaha jual-beli sapi tersebut.
Seperti yang dirasakan Soleh salah satu pelaku usaha sapi di Kota Tarakan. Pria yang akrab disapa Pakde tersebut mengakui jika biaya perawatan sapi setiap tahunnya terus mengalami peningkatan.
Ia menjelaskan, untuk merawat seekor sapi ternak, ia harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli vitamin, pangan, dan obat. Terlebih saat ini, menurutnya, harga-harganya sangatlah mahal.
"Sekarang harga-harga terus naik, harga obat cacing untuk ternak sebesar Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk dedak atau makanan ternak per-ton nya seharga Rp 5 juta. Setiap tahun naiknya macam-macam (variatif) bisa naik puluhan ribu sampai ratusan ribu untuk perkarungnya," ujarnya, Kamis (23/5).
“Misalnya dedak, 1 ton dedak itu bisa sampai seminggu saja. Sebulan bisa sampai 4 kali memesan. Kalau vitamin dan obat mahal karena tidak ada di sini, kita harus pesan dari Jawa. Itu yang buat harganya mahal. Setiap hari sapi harus dikasi vitamin dan jamu supaya dia sehat," sambungnya.
Sementara di sisi lain pihaknya tidak bisa menaikkan harga sapi dalam jumlah besar. Dikatakannya, jika hal tersebut dilakukan akan mempengaruhi pembelian.
Sehingga ia mengakui memiliki untung yang cukup tipis. Belum lagi, sapi memerlukan pakan selai dedak yakni rumput, yang harus didapatkan di lokasi yang jauh sehingga pihaknya memperkejakan orang mengambil rumput.
"Sebenarnya tipis saja untungnya, karena biaya perawatan yang terus naik sementara kita tidak bisa menaikkan harga dengan besar. Kalau makannya bulan cuma dedak, tapi juga rumput. Rumput itu kita ambil di tempat lain, saya pekerjaan orang untuk mengambil rumput setiap hari, saya gaji bulanan," ungkapnya.
"Saat ini makanan, obat-obatan, vitamin kami beli harga normal. Jadi mungkin semua peternak berharap ada subsidi dari pemerintah. Dibutuhkan banyak obat-obatan, sentra, dedak, obat cacing itukan harus ada dan di sini tidak tersedia. Kalau ada subsidi ini akan membantu peternak menyediakan sapi yang lebih berkualitas dari segi kesehatan," katanya.
Dia berharap pemerintah dapat memberi subsidi terkait hal tersebut, guna mencegah petani merugi, terlebih saat ini sudah mendekati Idul Adha dimana permintaan sapi akan meningkat. Soleh juga berharap pemerintah tidak mendatangkan sapi dari luar sebab akan berdampak pada sapi lokal.
“Siapa yang mau tanggung jawab bukan pemerintah tapi pribadi sendiri. Biar pemerintah bilang kewajiban itu omong kosong saja. Kalau sudah mati tidak tanggung jawab. Kemarin (tahun Iduladha 2023) banyak peternaK yang hancur karena ndak laku. Karena pedagang dari sana yang bikin hancur. Karena didatangkan dari luar dan banyak. Dia kasih pakde harga Rp 30 juta, orangnya jual Rp 26 juta,” pungkasnya. (zac/lim)