"Ini dikarenakan faktor perubahan musim yang tidak bisa diprediksi oleh nelayan. Selain itu juga karena harga BBM mahal dan langka," terangnya. Ditambahkannya, sektor perikanan akan mendapat perhatian khusus Pemkab Berau dan Pemprov Kaltim mengingat sektor ini menjadi salah satu sektor andalan dalam mendukung ketahanan pangan di IKN.
"Pemprov Kaltim sudah melirik Kabupaten Berau sebagai penyangga ketahanan pangan di IKN, di samping Berau menjadi pusat pariwisata di IKN ke depannya," pungkasnya. Hingga akhir tahun ini, jumlah produksi itu pun ditargetkan serta dipastikan akan terus meningkat dan melampaui target pencapaian produksi ikan pada tahun 2023 lalu sebesar 28.836,97 ton.
Sekretaris Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau, Yunda Zuliarsih menjelaskan dari total produksi 13,9 ton yang diperoleh pada semester 1 tahun 2024 tersebut, hasil perikanan tangkap mencapai 12,3 ton. Sedangkan perikanan budidaya 1,5 ton.
"Biasanya jumlahnya akan lebih tinggi lagi dari produksi perikanan tahun 2023 dengan perikanan tangkap 24.941,08 ton dan perikanan budidaya 3.895,89 ton," ungkapnya. Untuk meningkatkan hasil produksi itu, lanjutnya, di sektor perikanan tangkap, pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap para nelayan kecil melalui bimtek, pemberian bantuan berupa kapal/ perahu nelayan, pemberian mesin dongfeng, dan alat tangkap.
"Sedangkan untuk budidaya, peningkatan kapasitas SDM pembudidaya melalui bimtek, pemberian bantuan sarana produk budidaya perikanan seperti benih, pupuk dan pakan, kolam terpal/bioflok," bebernya.
"Lalu untuk pemberian bantuan peralatan dan sarana prasarana itu saya belum tahu jumlah pastinya. Tapi pemberian bantuan berdasarkan proposal yang diajukan oleh kelompok sesuai kebutuhan masing-masing," sambungnya lagi.
Diakuinya, menurunnya jumlah produksi ikan yang sempat terjadi pada semester II tahun 2023 lalu memang tidak bisa dihindari. Selain karena faktor cuaca, kelangkaan BBM juga turut mendukung berkurangnya produktivitas itu.
"Kalau faktor cuaca itu sudah alamiah ya, tetapi kalau harga BBM kan harga subsidi lebih murah. Tapi mungkin kuotanya terbatas sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan nelayan 100 persen," paparnya.
Meskipun masih ada kendala yang ditemukan, menurutnya, faktor cuaca dan perubahan musim merupakan kendala utama bagi perikanan laut. Berikutnya tidak terlalu berpengaruh signifikan pada perikanan budidaya.
"Semoga produksi perikanan dari kegiatan budidaya dapat lebih meningkat melalui program peningkatan kapasitas SDM pembudidaya dan juga pengembangan sarana dan prasarana budidaya," harapnya. (*)