PROKAL.CO, SAMARINDA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) pada Desember 2025 sebesar 2,68% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 109,80. Inflasi tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan masyarakat menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), ditambah tekanan cuaca ekstrem dan kenaikan harga emas.
Kepala BPS Kaltim Dr Yusniar Juliana menyampaikan, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Berau sebesar 2,82% dengan IHK 110,29. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sebesar 2,08% dengan IHK 109,07.
“Inflasi y-on-y terjadi karena kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat,” kata Yusniar dalam rilis resminya, Senin 5 Januari 2025.
Kenaikan indeks harga terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang melonjak 4,72%. Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 1,41%, transportasi sebesar 1,79%, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,33%, serta pendidikan sebesar 2,80%.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mengalami inflasi 1,68%, seiring meningkatnya aktivitas makan di luar selama libur panjang. Adapun inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 12,55%.
Sebaliknya, sejumlah kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks harga. Kelompok pakaian dan alas kaki tercatat deflasi 1,43%, diikuti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04%, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga sebesar 1,22%, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,32%.
BPS mencatat sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Kaltim. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan, beras, ikan layang, rokok kretek mesin (SKM), angkutan udara, kopi bubuk, cabai rawit, daging ayam ras, minyak goreng, bawang merah, hingga bensin dan biaya pendidikan.
Sementara komoditas yang menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi antara lain bahan bakar rumah tangga, sabun deterjen, pakaian muslim pria dan wanita, telepon seluler, sepatu wanita, serta sejumlah produk sandang lainnya.
Secara bulanan, tingkat inflasi month to month (m-to-m) Desember 2025 tercatat sebesar 0,71%, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) sepanjang Januari–Desember 2025 juga berada di angka 2,68%.
BPS menilai peningkatan inflasi Desember 2025 tak lepas dari tingginya permintaan menjelang puncak libur Nataru. Aktivitas belanja masyarakat meningkat, terutama untuk kebutuhan pangan seperti bawang merah dan cabai.
Selain itu, lonjakan penumpang di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan yang mencapai lebih dari 21 ribu orang pada puncak arus libur akhir tahun turut mendorong permintaan jasa transportasi.
Peningkatan kunjungan wisata selama libur Nataru, termasuk ke IKN Nusantara yang mencapai sekitar 37 ribu pengunjung, pantai Manggar, dan pusat perbelanjaan, juga mendorong kenaikan permintaan makan dan minum di restoran serta kafe.
Faktor cuaca ekstrem sepanjang Desember 2025 turut menekan pasokan sejumlah komoditas pangan dari daerah pemasok utama. Terbatasnya pasokan bawang merah dan cabai rawit menyebabkan harga komoditas tersebut melonjak.
Di sisi lain, harga emas terus mengalami tren kenaikan. Rata-rata harga emas pada Desember 2024 tercatat sebesar Rp1.515.000, naik menjadi Rp2.383.000 pada November 2025, dan kembali meningkat ke Rp2.501.000 pada Desember 2025.
BPS Kaltim juga menyoroti dinamika global yang berpengaruh terhadap perekonomian daerah. Volume impor batu bara China pada November 2025 tercatat turun 19,09% (y-on-y), diikuti penurunan impor batu bara Jepang sebesar 2,5% dan Vietnam sebesar 4,8%. Selain itu, permintaan gas alam cair (LNG) di Asia diperkirakan turun 5% sepanjang 2025, seiring tingginya harga energi dan ketegangan perdagangan global.
Kondisi global tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kinerja sektor unggulan Kalimantan Timur ke depan, meski tekanan inflasi domestik masih terjaga dalam rentang moderat. (*)
Editor : Indra Zakaria