TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara mencatat Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor komoditas dari Bumi Benuanta. Meskipun kinerja ekspor secara umum mengalami tekanan, Tiongkok memimpin pasar dengan nilai transaksi mencapai USD 630,27 juta sepanjang periode Januari hingga November 2025.
Kepala BPS Kaltara, Mas'ud Rifai, merinci bahwa selain Tiongkok, terdapat empat negara lain yang menjadi pilar utama perdagangan luar negeri Kaltara, yakni Filipina (USD 246,49 juta), India (USD 96,46 juta), Malaysia (USD 65,27 juta), dan Korea Selatan (USD 57,88 juta). Kelima negara ini memiliki peran sangat strategis karena menyumbang hingga 87,76 persen dari total aktivitas ekspor melalui pelabuhan di Kaltara.
Namun, laporan terbaru menunjukkan adanya tantangan besar bagi perekonomian daerah. Total nilai ekspor Kaltara periode Januari-November 2025 tercatat sebesar USD 1.253,57 juta, atau mengalami penurunan cukup dalam sebesar 47,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini dipicu oleh merosotnya sektor migas yang mencapai 70,12 persen dan sektor nonmigas, khususnya hasil tambang yang terkontraksi hingga 57,50 persen.
Di tengah tren negatif pada sektor ekstraktif, terdapat kabar positif dari sisi ekspor asli daerah. Sektor hasil industri menunjukkan performa gemilang dengan pertumbuhan sebesar 49,64 persen, disusul sektor pertanian yang juga meningkat 27,69 persen. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran kekuatan ekonomi Kaltara yang mulai mengandalkan sektor hilirisasi dan ketahanan pangan.
Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat penetrasi ke pasar-pasar utama seperti Tiongkok dan Filipina, sembari mendorong diversifikasi produk ekspor. Peningkatan pada sektor industri dan pertanian menjadi modal penting bagi Kaltara untuk tetap menjaga stabilitas ekonomi di tengah fluktuasi harga komoditas tambang global. (*)
Editor : Indra Zakaria