Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Harga Rumput Laut Tarakan Terus Merosot, Pembudidaya Terhimpit Biaya Operasional

Redaksi Prokal • 2026-01-21 10:45:00
ANJLOK: Ilustrasi Petani memperlihatkan hasil panennya. (AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN)
ANJLOK: Ilustrasi Petani memperlihatkan hasil panennya. (AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN)

 

TARAKAN – Sektor perikanan di Kota Tarakan kembali lesu menyusul harga jual rumput laut kering yang terus merosot di tingkat petani. Setelah sebelumnya sempat bertahan di angka Rp 11.000 per kilogram, kini harga komoditas unggulan tersebut merosot lagi menjadi Rp 10.000 per kilogram. Penurunan ini menambah daftar panjang kesulitan yang harus dihadapi para pembudidaya di tengah fluktuasi pasar yang tidak menentu.

Abdul Muis, salah seorang pembudidaya lokal, mengungkapkan kekecewaannya terhadap ketidakstabilan harga yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengenang masa kejayaan sekitar empat tahun lalu di mana harga rumput laut sempat menyentuh angka Rp 28.000 hingga Rp 40.000 per kilogram. Namun, kondisi saat ini berbanding terbalik; bahkan pada tahun 2024 harga pernah jatuh ke titik terendah di level Rp 7.000 per kilogram.

Ketidakpastian harga ini diperparah dengan risiko gagal panen yang menghantui setiap siklus tanam. Dalam waktu normal, satu siklus panen membutuhkan waktu sekitar 40 hingga 45 hari dengan estimasi hasil mencapai satu ton lebih. Namun, serangan hama tritip sering kali merusak tanaman hingga menyebabkan rumput laut rontok dari tali jemuran. Kondisi tersebut membuat hasil panen merosot drastis hingga hanya tersisa sekitar 300 kilogram.

Rendahnya harga jual saat ini dirasa sangat memberatkan karena tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Pembudidaya harus menanggung biaya operasional yang besar, termasuk upah bagi para pekerja pabettang atau pembentang bibit. Dengan margin keuntungan yang semakin menipis, banyak pembudidaya kini harus memutar otak agar tetap bisa bertahan dan menutup biaya produksi yang terus membengkak.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan keberlangsungan usaha budidaya rumput laut di Tarakan jika tidak ada intervensi atau stabilitas harga dalam waktu dekat. Para petani berharap ada perhatian lebih dari pihak terkait agar harga komoditas ini tidak terus jatuh dan merugikan ekonomi masyarakat pesisir. (*)

Editor : Indra Zakaria