Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ekonomi Kaltara Bergairah: Kredit Investasi Meroket 162 Persen di Tengah Pengetatan Likuiditas

Redaksi Prokal • 2026-02-04 11:25:00
BERI PENJELASAN: Kepala KPwBI Kaltara Hasiando Ginsar Manik (kanan) memberikan penyampaian terkait total kredit perbankan tumbuh 68,24 persen secara tahunan. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
BERI PENJELASAN: Kepala KPwBI Kaltara Hasiando Ginsar Manik (kanan) memberikan penyampaian terkait total kredit perbankan tumbuh 68,24 persen secara tahunan. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

TANJUNG SELOR – Sektor perbankan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencatatkan performa intermediasi yang luar biasa sepanjang tahun 2025. Di tengah fenomena penurunan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), penyaluran kredit justru melesat tajam, didorong oleh tingginya kepercayaan dunia usaha untuk melakukan ekspansi jangka panjang. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara melaporkan bahwa total kredit perbankan tumbuh impresif sebesar 68,24 persen secara tahunan (year on year), sebuah angka yang mencerminkan akselerasi ekonomi daerah yang sangat kuat.

Lonjakan paling fantastis terjadi pada segmen kredit investasi yang melambung hingga 162,05 persen. Fenomena ini menjadi sinyal positif bagi iklim investasi di Kaltara, mengingat kredit investasi biasanya digunakan untuk pembiayaan proyek berskala menengah hingga panjang serta penguatan kapasitas produksi. Kepala KPwBI Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini didominasi oleh sektor industri pengolahan dan pertambangan, yang menunjukkan adanya pergeseran ekonomi menuju penciptaan nilai tambah dan penguatan rantai pasok regional.

Meskipun ekspansi kredit berjalan sangat agresif, stabilitas sistem keuangan di Kaltara tetap terjaga dalam koridor yang aman. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat hanya sebesar 2,14 persen, angka yang masih berada jauh di bawah ambang batas bahaya sebesar 5 persen. Kondisi ini membuktikan bahwa perbankan di Kaltara tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan manajemen risiko yang ketat dalam menyalurkan pembiayaan, sehingga pertumbuhan yang terjadi adalah pertumbuhan yang berkualitas dan sehat.

Di sisi lain, perbankan menghadapi tantangan dalam penghimpunan dana di mana DPK mengalami kontraksi atau penurunan sebesar 3,76 persen, terutama pada instrumen giro dan deposito. Namun, Hasiando menegaskan bahwa penurunan ini tidak sampai mengganggu likuiditas perbankan untuk mendukung pembangunan daerah. Ke depan, Bank Indonesia terus mendorong agar aliran kredit tetap difokuskan pada sektor-sektor produktif yang memiliki efek berganda, seperti penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan di Bumi Benuanta. (sas/uno)

Editor : Indra Zakaria