SURABAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) mengambil langkah strategis untuk menekan ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah. Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), Pemprov Kaltara resmi menggandeng PT Charoen Pokphand Indonesia dalam kerja sama penguatan produksi telur dan daging ayam lokal guna mendukung program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tahun 2026.
Langkah ini diambil menyusul adanya ketimpangan besar antara kebutuhan dan produksi telur di Kaltara. Berdasarkan neraca pangan tahun 2026, kebutuhan telur di provinsi termuda ini mencapai 25.685 ton per tahun, sementara produksi peternak lokal saat ini baru mampu menyuplai sekitar 2.108 ton. Defisit sebesar 23 ribu ton tersebut selama ini harus didatangkan dari luar Kalimantan, yang berdampak pada tingginya biaya logistik dan harga di pasar.
Plt Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPKP Kaltara, Suhaeli, menjelaskan bahwa kemitraan ini difokuskan pada jaminan ketersediaan pakan ternak berkualitas dan bantuan bibit ayam (Day Old Chick/DOC). Dengan dukungan industri pakan besar, pemerintah berharap risiko gagal produksi akibat mahalnya distribusi pakan dapat ditekan, sehingga produktivitas peternak di lima kabupaten/kota dapat meningkat secara signifikan.
Sebagai basis utama pengembangan, Kabupaten Bulungan telah menyiapkan tujuh lokasi strategis yang akan menjadi pusat penerima bantuan bibit dan pakan. Selain fokus pada telur dan daging ayam, Pemprov Kaltara juga secara paralel mendorong pemenuhan komoditas pendukung lainnya seperti beras, sayur-sayuran, hingga buah-buahan lokal untuk memenuhi kebutuhan menu gizi masyarakat.
Pemerintah Provinsi menegaskan komitmennya agar seluruh komponen pangan dalam program gizi nantinya berasal dari keringat petani dan peternak lokal. Dengan memperkuat kemandirian produksi, diharapkan perputaran ekonomi tetap berada di wilayah Kaltara, sekaligus menjadi stimulus bagi pertumbuhan sektor agribisnis daerah di masa depan.(dkisp)
Editor : Indra Zakaria