PROKAL.CO - Gelar sarjana akuntansi umumnya identik dengan karier profesional di kota besar. Namun, pilihan berbeda diambil Wahyudin. Pria kelahiran 1988 itu justru kembali ke kampung halamannya di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, untuk menekuni sektor pertanian. Keputusan tersebut menjadi titik awal transformasi desa yang sebelumnya berada dalam bayang-bayang aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Selama bertahun-tahun, masyarakat Kalongliud menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Kerusakan infrastruktur irigasi akibat bencana pada 2020 memperburuk kondisi pertanian, sehingga sebagian warga memilih bekerja di tambang ilegal demi penghasilan cepat, meski berisiko tinggi. Situasi ini memunculkan kekhawatiran mendalam bagi Wahyudin, yang akrab disapa Kang Wahyu. Ia menilai, tanpa solusi ekonomi yang konkret dan berkelanjutan, peralihan warga ke aktivitas PETI akan semakin meluas.
Menurut Wahyu, potensi terbesar desa sebenarnya terletak pada lahan pertanian yang terbengkalai. Ia meyakini bahwa pencegahan tambang ilegal tidak cukup dilakukan melalui penertiban semata. Dibutuhkan alternatif mata pencaharian yang aman, layak, dan mampu memberikan kepastian ekonomi bagi masyarakat.
Kesempatan untuk mewujudkan gagasan tersebut hadir pada 2022, seiring dengan hadirnya program inovasi sosial Garitan Kalongliud yang diinisiasi PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor. Wahyu tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, melainkan tampil sebagai penggerak utama. Ia memimpin Kelompok Taruna Muda dan mengajak generasi muda desa mengelola kembali 35 hektare lahan tidur menjadi area pertanian produktif.
Perjalanan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Lonjakan harga pupuk kimia, serangan hama keong mas, serta keterbatasan pasokan air menjadi hambatan utama. Namun kondisi itu justru mendorong lahirnya inovasi berbasis sumber daya lokal. Wahyu menggagas pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Beko yang diproduksi dari fermentasi keong mas dan urin domba. Selain itu, kelompoknya memanfaatkan 25 ton limbah kotoran domba sebagai pupuk organik untuk menekan biaya produksi.
Hasilnya signifikan. Biaya pupuk berhasil ditekan hingga 50 persen, sementara kualitas tanah tetap terjaga. Untuk mengatasi persoalan air, warga mengembangkan sistem irigasi tetes sederhana yang mampu menghemat penggunaan air hingga 60 persen. Pendekatan ini memperkuat praktik pertanian berkelanjutan sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Transformasi juga dilakukan dalam sistem pemasaran hasil panen. Kelompok Taruna Muda mengambil peran sebagai fasilitator distribusi, memangkas ketergantungan pada tengkulak, dan menjual langsung produk pertanian ke Pasar Induk Kemang serta Kramat Jati. Strategi tersebut berdampak langsung pada peningkatan pendapatan kelompok tani hingga 65 persen. Sepanjang 2024–2025, unit usaha cabai yang dikelola bersama mencatatkan laba bersih sebesar Rp246.258.000.
Dampak sosial program ini turut terasa luas. Delapan mantan pelaku PETI kini beralih menjadi petani produktif. Secara keseluruhan, inisiatif kolaboratif tersebut mencatatkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,34 dan berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan desa sebesar 6,52 persen. Atas kontribusinya dalam mendorong inovasi sosial dan pemberdayaan masyarakat, Wahyudin menerima Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2025 sebagai Local Hero Inspiratif.
Komitmen terhadap pengembangan kapasitas masyarakat terus berlanjut melalui Rumah Belajar Garitan yang telah dikunjungi lebih dari 696 orang. Fasilitas ini menjadi pusat edukasi pertanian dan kewirausahaan desa, sekaligus mendorong lahirnya regenerasi petani muda. Salah satunya adalah Atang Sujai yang kini aktif menyempurnakan formula pupuk organik untuk diterapkan di desa-desa sekitar.
Bagi Wahyu, keberhasilan sejati bukan sekadar penghargaan atau angka keuntungan. Baginya, capaian terbesar adalah ketika masyarakat desa dapat bekerja dengan aman, memperoleh penghasilan yang layak, dan membangun masa depan tanpa harus mempertaruhkan nyawa di tambang ilegal. Transformasi Kalongliud menjadi bukti bahwa pengelolaan sumber daya lokal secara inovatif mampu menghadirkan harapan baru bagi pembangunan desa yang berkelanjutan.
Editor : Rahman Hakim