Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Fenomena Gamis Bini Orang: Tren Unik yang Mendominasi Jelang Lebaran 2026

Redaksi Prokal • 2026-03-01 00:10:25

Gamis Bini Orang yang lagi tren.
Gamis Bini Orang yang lagi tren.

PROKAL.CO- Menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, gairah belanja busana muslim di berbagai pusat grosir mulai menunjukkan lonjakan yang signifikan. Di Pasar Kapasan, Surabaya, sebuah tren unik dengan nama yang nyeleneh tengah menjadi buah bibir dan rebutan kaum perempuan. Gamis "Bini Orang" atau yang akrab dijuluki "Binor" mendadak viral dan diprediksi menjadi seragam wajib Lebaran tahun ini. Meski namanya terdengar jenaka, desainnya justru mengedepankan kesan anggun dan bersahaja.

"Gamis yang banyak dicari model Binor, itu paling laris. Ada juga gamis rompi lepas. Sekarang sudah ramai, tapi biasanya puncak orang berbelanja itu H-7 Lebaran," ungkap Siti Aminah, salah satu pedagang busana muslim di Pasar Kapasan, pada Jumat (27/2).

Kepopuleran gamis ini tidak terlepas dari pengaruh media sosial, khususnya TikTok, di mana istilah tersebut dipopulerkan oleh fashion stylist Andre Panaga sebagai sebuah guyonan ringan yang merujuk pada gaya berpakaian perempuan yang sudah menikah: rapi, tertutup, dan "aman".

Ciri khas gamis ini terletak pada potongan rok bertingkat dengan detail lengkungan yang jatuh cantik saat dikenakan. Siti Aminah menjelaskan bahwa harga yang ditawarkan sangat bervariasi tergantung pada material kainnya. "Bahan jersey harganya Rp 265 ribu, bahan chiffon Rp 175 ribu. Yang paling laris bahan jersey, soalnya adem dan model simpel, tetapi cantik-cantik warnanya," tambahnya.

Senada dengan Aminah, pedagang lain bernama Dewiyanti mengakui bahwa tren tahun ini jauh lebih spesifik dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 tren busana cenderung acak, tahun 2026 ini permintaan terpusat pada model-model tertentu yang sedang viral. "Kalau tahun kemarin nggak ada spesifik tren, random saja gamis yang laku. Kalau tahun ini yang ramai ya ini, gamis bini orang sama gamis rompi," tutur Dewiyanti. Ia menjual varian bahan ceruti seharga Rp 175 ribu, sementara untuk model dengan sentuhan bordir dibanderol Rp 245 ribu.

Fenomena ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh konten kreatif digital dalam menggerakkan roda ekonomi di pasar tradisional. Para pedagang di Pasar Kapasan berharap tren ini terus bertahan hingga malam takbiran tiba, membawa berkah bagi usaha mereka yang sempat stagnan. Dengan desain yang mengutamakan kenyamanan namun tetap terlihat modis, gamis bini orang berhasil membuktikan bahwa sebuah nama yang "berani" bisa menjadi strategi pemasaran yang sangat efektif di era digital saat ini. (*)

Editor : Indra Zakaria