Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dunia di Ambang Krisis Energi: Harga Minyak Diprediksi Melonjak Pasca-Serangan AS dan Israel ke Iran

Redaksi Prokal • 2026-03-01 07:20:00

Kapal berbendera St Kitt's and Nevis-di Teluk Hormuz.
Kapal berbendera St Kitt's and Nevis-di Teluk Hormuz.

PROKAL.CO- Pasar komoditas global bersiap menghadapi guncangan hebat menyusul serangan udara masif Amerika Serikat dan Israel ke jantung pertahanan Iran. Para analis ekonomi memperingatkan bahwa harga minyak mentah dunia dapat melonjak antara $10 hingga $20 per barel saat pasar dibuka pada Minggu malam (1/3).

Lonjakan drastis ini dipicu oleh ketidakpastian total setelah laporan mengenai tewasnya Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan upaya Presiden Trump untuk menghancurkan program nuklir serta melumpuhkan rezim Teheran. "Mengingat skala pembalasan yang terjadi, inisiatif strategis kini berada di tangan Iran," ujar Jorge León, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy.

Fokus utama pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling kritis di dunia yang dilalui oleh seperlima pasokan energi global setiap harinya. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengeluarkan peringatan keras melalui radio bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintasi selat tersebut. Menanggapi ancaman ini, sejumlah perusahaan minyak raksasa dan rumah dagang besar dilaporkan langsung menghentikan pengiriman bahan bakar melalui Selat Hormuz. Jika penutupan ini berlangsung lama, premi risiko dan biaya pengiriman akan melambung tinggi, memaksa kapal-kapal tanker mengambil rute jauh yang jauh lebih mahal.

Di tengah situasi yang kian memanas, Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social menegaskan bahwa operasi militer AS bertujuan untuk memusnahkan kapasitas persenjataan nuklir Iran serta menghancurkan angkatan laut negara tersebut. Trump bahkan memberikan pilihan keras kepada angkatan bersenjata Iran: menyerah atau menghadapi "kematian yang pasti." Eskalasi ini jauh lebih luas dibandingkan konflik-konflik sebelumnya, karena Iran langsung membalas dengan menghujani pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Bahrain, dan UEA dengan rudal, yang semakin memperkuat kekhawatiran akan gangguan infrastruktur energi secara regional.

Mata dunia kini tertuju pada pertemuan bulanan OPEC+ yang dijadwalkan hari Minggu ini. Muncul rumor bahwa kartel minyak tersebut mungkin akan meningkatkan kuota produksi guna meredam tekanan harga, namun para analis meragukan langkah tersebut akan efektif di tengah risiko perang terbuka. Dengan kontribusi Iran sebesar 4% dari pasokan minyak dunia, hilangnya produksi mereka ditambah blokade jalur distribusi utama dapat mendorong harga minyak melampaui level yang sulit diprediksi, yang pada akhirnya akan memicu inflasi global dan ketidakstabilan ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.(*)

Editor : Indra Zakaria