TARAKAN- Perekonomian Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan performa yang tangguh sepanjang tahun 2025 dengan mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 4,56 persen (c-to-c). Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, pertumbuhan ini menandakan adanya dinamika baru dalam struktur ekonomi daerah, di mana sektor non-tambang mulai mengambil peran sebagai motor penggerak utama.
Kepala BPS Kaltara, Mustaqim, mengungkapkan bahwa sektor konstruksi menjadi bintang utama dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 11,17 persen sepanjang tahun lalu.
“Pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha. Konstruksi menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025,” jelas Mustaqim pada Jumat (27/2). Selain konstruksi, penguatan ekonomi juga didorong oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 9,99 persen, serta sektor perdagangan yang naik 9,84 persen. Menariknya, di saat sektor jasa dan pembangunan fisik melesat, sektor pertambangan dan penggalian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Kaltara justru mengalami tekanan dan terkontraksi sebesar 1,09 persen.
Meskipun pertambangan mengalami penyusutan, secara struktur sektor ini tetap memegang porsi terbesar dalam PDRB Kaltara dengan kontribusi 26,84 persen. Namun, menguatnya sektor pertanian (14,87 persen), perdagangan (13,73 persen), dan konstruksi (13,70 persen) menunjukkan bahwa diversifikasi ekonomi di Kaltara mulai membuahkan hasil. Total kontribusi dari lima lapangan usaha utama, termasuk industri pengolahan, kini menyumbang hingga 77,89 persen terhadap total perekonomian daerah.
Memasuki triwulan IV-2025, geliat ekonomi semakin kencang dengan pertumbuhan sebesar 5,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (y-on-y). Lonjakan signifikan pada akhir tahun ini dipicu oleh aktivitas administrasi pemerintahan dan jasa keuangan yang tumbuh di atas 12 persen secara triwulanan (q-to-q). Mustaqim menegaskan bahwa capaian ini merupakan sinyal positif bagi masa depan ekonomi Kaltara. “Struktur ekonomi kita mulai semakin beragam dan tidak sepenuhnya bergantung pada sektor pertambangan. Diversifikasi ekonomi terus terlihat, terutama dari menguatnya sektor konstruksi dan jasa,” pungkasnya. (*)
Editor : Indra Zakaria