SAMARINDA – Laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) pada tahun 2026 diperkirakan tidak akan sefantastis capaian tahun 2024. Jika pada dua tahun lalu pertumbuhan mampu menembus angka 6,17 persen, pada tahun 2026 ini ekonomi Benua Etam diproyeksi melandai di rentang 4,5 hingga 5,3 persen.
Penurunan ini disebabkan oleh fase normalisasi pembangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN). Analis Senior Fungsi Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA), Ashari Novy Sucipto, menjelaskan bahwa lonjakan ekonomi pada 2024 silam sangat ditopang oleh percepatan masif infrastruktur di IKN.
“Kalau kita lihat bahwa memang sebenarnya di tahun 2024 pertumbuhan ekonomi banyak terdapat dari percepatan infrastruktur. Banyak proyek konstruksi, banyak percepatan proyek di IKN sehingga itu mendorong tinggi sekali pertumbuhan ekonomi di 2024,” jelas Ashari Novy Sucipto, Jumat (27/2/2026).
Namun, memasuki tahun 2026, anggaran dan pengerjaan fisik di IKN mulai memasuki tahap normalisasi. Kondisi ini membuat kontribusi sektor konstruksi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah tidak lagi seluas sebelumnya.
Selain faktor domestik, tantangan besar datang dari tekanan global yang memengaruhi sektor andalan Kaltim, yakni sektor ekstraktif. Harga komoditas batubara yang menjadi "napas" utama ekspor Kaltim ke pasar Tiongkok dan Asia diperkirakan masih tertahan.
“Memang sebenarnya ekonomi Kaltim itu engine-nya cuma satu, sektor ekstraktif. Makanya 2010 sampai 2020 itu sangat tergantung dari globalnya seperti apa, harganya seperti apa,” paparnya. Ia menambahkan bahwa sinyal harga ekspor untuk pasar tradisional Asia pada 2026 ini masih cenderung tertahan.
Kendati demikian, muncul optimisme baru dari sektor non-tambang. Industri pengolahan di Balikpapan yang sudah mulai beroperasi serta geliat konstruksi swasta seperti pembangunan pabrik dan proyek KPR diharapkan menjadi mesin pertumbuhan alternatif. Selain itu, rencana migrasi Aparatur Sipil Negara (ASN) ke IKN pada 2026 diprediksi akan mendongkrak sektor perdagangan dan jasa domestik.
“Kami mengharapkannya dari industri pengolahan dan konstruksi swasta yang mulai bergeliat. Mudah-mudahan kondisi global membaik sehingga engine pertumbuhan kita bisa lebih seimbang,” pungkas Ashari.
Meskipun Kaltim masih menghadapi tantangan besar dalam diversifikasi ekonomi dari ketergantungan batubara, inisiasi hilirisasi kini menjadi tumpuan utama agar stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga di tengah melandainya euforia konstruksi IKN. (*/riz)
Editor : Indra Zakaria