TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau kini serius membidik komoditas kelapa dalam sebagai motor baru penggerak ekonomi desa. Tak ingin sekadar menjual kelapa mentah, strategi hilirisasi mulai digeber secara terintegrasi, mulai dari pembangunan rumah produksi hingga pengurusan izin edar resmi.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Berau, Tenteram Rahayu, mengungkapkan bahwa Kampung Giring-Giring telah ditetapkan sebagai sentra pengembangan. Di sana, masyarakat sebenarnya telah merintis produksi sabun batang berbahan dasar minyak kelapa, namun sempat terbentur kendala administratif.
"Produksi memang sempat berhenti karena belum mengantongi izin BPOM. Saat ini dokumennya sedang dalam pengurusan intensif," ujar Tenteram, Kamis (5/3/2026).
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemkab Berau telah mengucurkan Alokasi Dana Kampung (ADK) untuk membangun rumah produksi yang sesuai dengan standar keamanan BPOM. Sebanyak lima unit mesin pengolah juga telah disiagakan untuk memastikan proses produksi minyak kelapa dan sabun berjalan maksimal.
Menariknya, pemerintah tidak ingin mematikan usaha rakyat yang sudah ada. Para perajin minyak kelapa rumahan justru dirangkul untuk masuk ke dalam rantai pasok. "Kita rangkul perajin rumahan, tidak dikesampingkan. Mereka tetap berproduksi, tinggal proses akhirnya didukung dengan mesin yang kita miliki," jelasnya.
Strategi pemasaran pun telah dirancang secara sistematis. Pemkab Berau berencana mengeluarkan kebijakan agar produk turunan kelapa dalam kemasan kecil (travel size) dapat diserap oleh jaringan hotel dan resort yang menjamur di Berau. Nantinya, kelompok PKK akan berperan sebagai produsen, sementara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bertindak sebagai distributor utama.
Selain Giring-Giring, potensi serupa muncul di Kampung Karangan melalui inisiatif mandiri seorang warga lulusan Biologi yang memproduksi sabun cair. Pemkab berencana melakukan studi banding ke daerah lain untuk mempercepat proses pembelajaran teknologi pengolahan kelapa ini.
Bupati Berau, Sri Juniarsih, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi lintas OPD ini. Ia menilai hilirisasi kelapa dalam adalah wujud nyata penguatan ekonomi berbasis potensi lokal yang mampu menciptakan lapangan kerja baru di tingkat kampung.
"Ini contoh nyata penguatan ekonomi daerah. Dengan dukungan regulasi dan payung hukum yang tepat, saya optimistis produk kelapa Berau mampu bersaing dan menjadi identitas ekonomi lokal yang berkelanjutan," tegas Bupati Sri Juniarsih.(*)
Editor : Indra Zakaria