Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tembus Pasar Prancis, Kakao Berau Kini Jadi Rebutan Dunia Namun Terganjal Faktor Alam

Redaksi Prokal • 2026-03-07 13:30:00

Ilustrasi kakao
Ilustrasi kakao

TANJUNG REDEB – Komoditas kakao asal Kabupaten Berau kini semakin berkibar di panggung internasional. Setelah sukses menembus pasar Amerika Serikat, kini giliran Prancis yang resmi menjadi tujuan ekspor terbaru. Sebanyak 10 ton biji kakao fermentasi premium dilepas langsung oleh Bupati Berau, Sri Juniarsih, dalam seremoni di halaman Kantor Bupati, Selasa (3/3/2026).

Bupati Sri Juniarsih menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan pengakuan dunia atas kualitas unik kakao Berau. "Karakter rasa khas dengan keseimbangan pahit dan asam segar menjadi daya tarik industri cokelat premium dunia. Ini membuktikan daya saing komoditas lokal kita di tingkat global," ujarnya optimis.

Meski karpet merah ekspor telah terbentang luas, tantangan besar membayangi Dinas Perkebunan (Disbun) Berau. Permintaan dari luar negeri, seperti Italia yang meminta pasokan rutin 200 ton setiap dua bulan, hingga total kebutuhan global yang menembus 1.000 ton per tahun, belum sepenuhnya bisa disanggupi.

Kepala Disbun Berau, Lita Handini, mengungkapkan bahwa produksi normal Berau berada di angka 600 hingga 700 ton per tahun. Namun, faktor alam menjadi musuh utama yang sulit diprediksi. "Kendala kita adalah banjir yang terjadi berkali-kali. Tanaman kakao jika terendam 2-3 hari saja bisa menyebabkan gagal panen," jelas Lita, Rabu (4/3/2026).

Kondisi ini sempat terjadi pada tahun 2024 lalu, di mana anomali cuaca mengakibatkan banyak kebun kakao terendam dan produktivitas menurun drastis. Akibatnya, Berau harus sangat berhati-hati dalam menerima kontrak jangka panjang dalam jumlah besar.

Saat ini, biji kakao Berau menjadi "rebutan" antara pasar domestik dan internasional. Selain ekspor ke Prancis dan Amerika, pasokan lokal juga telah terserap oleh PT KASS, pengepul asal Samarinda, hingga mitra binaan Berau Coal.

Untuk menjawab besarnya peluang pasar Eropa dan Amerika, Disbun Berau kini memprioritaskan perluasan lahan perkebunan. Lita menyebut ketersediaan lahan sebenarnya masih mencukupi, namun tantangan utamanya adalah memotivasi petani untuk membuka kebun kakao baru di tengah risiko bencana hidrometeorologi.

"Kami terus mendorong perluasan perkebunan. Dengan peningkatan produksi yang konsisten, kita harapkan Berau benar-benar siap memenuhi permintaan dunia yang terus berdatangan," pungkas Lita. (*)

Editor : Indra Zakaria