Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rupiah Tembus Rp 17.000, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Ekonomi Kita Masih Ekspansi, Bukan Krisis 1998

Redaksi Prokal • 2026-03-10 11:10:00

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pernyataan tegas guna menenangkan pasar terkait fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Purbaya menekankan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam fase ekspansi dan sangat jauh dari bayang-bayang krisis moneter seperti yang terjadi pada tahun 1998 silam.

Dalam tinjauannya langsung ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin (9/3), Menkeu membantah analisis sejumlah ekonom yang menyebut Indonesia sedang menuju resesi atau kehancuran daya beli. Menurut pengamatannya di lapangan, aktivitas ekonomi masyarakat masih menunjukkan tren yang positif dan kuat.

"Rupiah Rp 17.000, IHSG anjlok, karena sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah menuju 1998 lagi. Katanya daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu," ujar Purbaya saat berdialog dengan awak media di sela kunjungannya.

Purbaya menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat sebagai pilar utama aktivitas ekonomi domestik. Ia menyebut bahwa saat ini ekonomi Indonesia tidak hanya sekadar bertahan, melainkan terus mengalami akselerasi di tengah gejolak global yang melanda.

"Ekonomi kita sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian. Jangankan krisis, resesi saja belum, melambat pun belum. Kita masih ekspansi dan masih akselerasi," tegasnya.

Menkeu juga berpesan kepada para investor di pasar modal agar tetap tenang dan tidak melakukan tindakan spekulatif yang dipicu oleh kepanikan. Ia meyakinkan bahwa pemerintah memiliki pengalaman panjang dan instrumen kebijakan yang matang dalam memitigasi risiko, belajar dari pengalaman krisis 1998, gejolak ekonomi global 2008, hingga pandemi 2020.

"Investor di pasar saham tidak usah takut, pondasi ekonomi kita dijaga betul. Kita sudah punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi segala gejolak yang terjadi dengan langkah-langkah yang diperlukan," pungkas Purbaya menutup keterangannya. (*)

Editor : Indra Zakaria