Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Konflik AS-Iran Mereda, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Longsor di Bawah USD 80 per Barel

Redaksi Prokal • Rabu, 17 Juni 2026 | 09:30 WIB
Pekerja kilang minyak. Redanya konflik di Timur Tengah membuat harga minyak mentah merosot.
Pekerja kilang minyak. Redanya konflik di Timur Tengah membuat harga minyak mentah merosot.

PROKAL.CO- Ketegangan geopolitik yang mulai mencair di Timur Tengah langsung berdampak signifikan pada pasar energi global. Harga minyak mentah dunia dilaporkan jatuh hingga 4 persen dan kini terperosok ke bawah level USD 80 per barel pada perdagangan Rabu (17/6). Amblesnya harga emas hitam ini dipicu oleh meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuka jalan bagi kembalinya pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.

Melansir data dari Investing pada Rabu (17/6), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pasar AS sempat naik tipis 0,2 persen ke level USD 76,28 per barel. Di sisi lain, kontrak berjangka Brent ditutup melemah sebesar 0,3 persen dan nangkring di posisi USD 79,13 per barel.

Sentimen positif ini berembus kencang setelah laporan Reuters menyebutkan bahwa AS dan Iran, dengan mediasi dari Pakistan, dijadwalkan akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) damai di Swiss pada hari Jumat mendatang. Ditambah lagi, Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali tanpa biaya, dibarengi dengan diakhirinya blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Merespons situasi tersebut, Kepala Analis Pasar di KCM Trade, Tim Waterer, menilai bahwa premi risiko geopolitik yang sebelumnya melambungkan harga minyak kini tengah dilepas secara agresif oleh pasar. Para pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang besar pulihnya kembali aliran pasokan minyak dunia. Sebagai catatan, dunia sempat kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas setelah Selat Hormuz—jalur strategis bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia—ditutup selama lebih dari tiga bulan akibat perang.

Kini, fokus para investor perlahan bergeser untuk mencermati seberapa cepat para produsen di Timur Tengah dapat memulihkan kapasitas produksi dan ekspor mereka pasca-kerusakan perang. Pasar juga menanti kembalinya kapal-kapal tanker untuk melintasi kawasan strategis tersebut.

Terkait hal ini, ahli strategi komoditas dari Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, memberikan catatannya. Meskipun masih ada ketidakpastian yang bisa mendorong harga Brent ke level USD 80 pada akhir tahun, arus minyak di Selat Hormuz sebenarnya hanya perlu kembali ke kisaran 60 hingga 70 persen dari level sebelum perang untuk membuat pasar global kembali surplus pasokan.

Di tengah sentimen damai Timur Tengah, American Petroleum Institute (API) baru saja melaporkan bahwa stok minyak mentah AS menyusut sebesar 8,33 juta barel untuk pekan yang berakhir 12 Juni. Penurunan ini jauh lebih dalam ketimbang prediksi awal analis yang memperkirakan penurunan 4,5 juta barel saja.

Meski penurunan persediaan minyak mentah yang besar ini mengindikasikan permintaan domestik AS yang masih tangguh, pasar tampaknya lebih memilih fokus pada potensi banjir pasokan dari Timur Tengah. Terlebih lagi, persediaan bensin di AS justru tercatat membengkak sebesar 2,48 juta barel, sementara persediaan produk distilat seperti solar dan bahan bakar pemanas hanya turun tipis sekitar 10 ribu barel. (*)

Editor : Indra Zakaria
#minyak