Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pelaung Ekonomi, Lidi Nipah Kalimantan Timur Sukses Cetak Ekspor Senilai Ratusan Juta Rupiah

Redaksi Prokal • Selasa, 23 Juni 2026 | 09:15 WIB
Ilustrasi pohon nipah.
Ilustrasi pohon nipah.

SAMARINDA – Komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) asal Kalimantan Timur kembali menunjukkan taringnya di panggung internasional. Kelompok Tani Hutan (KTH) Sinar Nilam asal Kabupaten Kutai Kartanegara sukses menembus pasar Asia Selatan melalui ekspor lidi nipah ke India. Tidak main-main, dalam dua tahun terakhir, volume pengiriman komoditas ini hampir menyentuh angka 40 ton.

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa optimalisasi potensi lokal mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat pesisir tanpa harus merusak alam. Pemerintah daerah pun memberikan apresiasi tinggi atas capaian internasional kelompok tani tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Timur, Rusmadi, membeberkan bahwa total volume ekspor lidi nipah curah yang dihasilkan KTH Sinar Nilam selama dua tahun ini mencapai 39,80 ton dengan nilai transaksi yang sangat menggiurkan. "Langkah ekspor ini terbukti mampu memperluas jangkauan pasar hingga ke mancanegara," kata Rusmadi saat memberikan keterangan di Samarinda.

Secara rinci, Rusmadi memaparkan bahwa nilai penjualan pada tahun 2025 sukses membukukan angka Rp291.450.000. Tren positif tersebut terus berlanjut hingga memasuki kuartal pertama tahun ini.

"Sementara hingga April 2026, kelompok tani tersebut telah mencatat penjualan senilai Rp135.055.000," imbuhnya merincikan neraca perdagangan lokal tersebut.

Seluruh bahan baku lidi nipah berkualitas ekspor ini dipanen langsung oleh warga dari kawasan Perhutanan Sosial di Desa Muara Kembang, Kutai Kartanegara. Melalui kerja sama dengan perusahaan penyalur ekspor swasta di Jakarta, lidi-lidi tersebut kemudian diterbangkan ke India.

Demi menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir, masyarakat menerapkan sistem manajemen panen yang ketat dan tidak mengeksploitasi lahan secara serakah. "Proses pemanenan dilakukan secara bertahap selama 20 hari setiap bulan. Cara tersebut dilakukan agar tanaman tetap terjaga dan mampu terus menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat," jelas Rusmadi terkait prinsip keberlanjutan yang dianut warga.

Keberhasilan KTH Sinar Nilam naik kelas ke pasar global tidak lepas dari sokongan berbagai pihak. Program pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan ini turut dikawal ketat lewat pendampingan dari KPHP Delta Mahakam serta Pertamina Hulu Mahakam.

Hebatnya, selain sibuk memilah lidi untuk kebutuhan ekspor, para anggota kelompok tani berkomitmen menjaga "pabrik alam" mereka. Warga rutin menggelar patroli perlindungan kawasan minimal satu kali dalam sepekan guna membentengi hutan dari pembalakan liar serta menjaga kelestarian flora dan fauna endemik di dalamnya.

Melalui harmoni antara ekonomi dan konservasi ini, lidi nipah kini resmi menjadi simbol harapan baru bagi kesejahteraan masyarakat pesisir Kalimantan Timur. (*)

Editor : Indra Zakaria
#lidi #nipah