PROKALco, BALIKPAPAN – Industri kelapa sawit Kalimantan Timur memiliki peluang besar untuk naik kelas. Tak hanya mengandalkan produksi bahan baku, sektor ini didorong semakin produktif sekaligus memperkuat hilirisasi agar memberikan nilai tambah lebih besar bagi daerah dan masyarakat.
Potensi tersebut mengemuka dalam 9th Borneo Forum 2026 bertema “Resilience, Innovation, and Transformation: Empowering the Palm Oil Industry Beyond Sustainability” yang digelar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Timur di Platinum Hotel & Convention Hall Balikpapan, Kamis (6/8).
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengatakan, sawit merupakan salah satu sektor strategis yang dapat menjadi penggerak ekonomi daerah. Kaltim saat ini memiliki sekitar 1,6 juta hektare perkebunan sawit dengan produksi mencapai sekitar 4,3 juta hingga 4,9 juta ton CPO per tahun.
Produksi tersebut setara hampir 10 persen dari produksi CPO nasional. Besarnya potensi itu dinilai menjadi modal kuat bagi Kaltim untuk mengembangkan industri pengolahan sawit dan produk turunannya. “Kami ingin lebih banyak industri pengolahan turunan sawit dibangun di Kalimantan Timur agar nilai tambahnya dapat dinikmati di daerah,” kata Seno.
Menurut dia, penguatan hilirisasi sawit juga sejalan dengan transformasi ekonomi Kaltim yang tengah didorong pemerintah daerah. Selama ini, perekonomian Kaltim masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap sektor pertambangan.
Karena itu, pengembangan industri berbasis sumber daya daerah menjadi peluang untuk memperluas struktur ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.
Seno menyebutkan, dari produksi CPO Kaltim yang mencapai sekitar 4,9 juta ton per tahun, saat ini baru terdapat dua pabrik minyak goreng. Kondisi tersebut justru menunjukkan besarnya ruang pengembangan industri hilir. Menurutnya, investasi pada pengolahan CPO menjadi berbagai produk turunan dapat memperpanjang rantai ekonomi sawit di daerah.
Dengan hilirisasi, sawit tidak berhenti sebagai komoditas bahan baku, tetapi dapat berkembang menjadi industri bernilai tambah yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Di sisi lain, peningkatan produktivitas menjadi fondasi penting agar pengembangan industri sawit berjalan berkelanjutan. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan kebutuhan dunia terhadap minyak nabati dan energi masih memberikan prospek positif bagi industri sawit Indonesia.
Menurut Eddy, ketangguhan industri sawit telah teruji menghadapi berbagai tekanan ekonomi. Mulai dari krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008–2009 hingga pandemi Covid-19.
Bahkan pada masa pandemi, industri sawit mampu menghasilkan devisa sekitar USD39,2 miliar sekaligus mempertahankan penyerapan tenaga kerja. “Selama kebutuhan dunia terhadap minyak nabati masih ada, sawit akan tetap menjadi komoditas strategis,” ujar Eddy.
Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas. Eddy mengatakan ruang peningkatan produksi masih terbuka lebar, khususnya pada perkebunan rakyat yang mencakup sekitar 41 persen dari total luas perkebunan sawit nasional.
Percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penggunaan benih unggul, penerapan teknologi, mekanisasi serta pendampingan petani menjadi langkah penting untuk meningkatkan produksi tanpa harus melakukan pembukaan lahan baru.
“Dengan inovasi, transformasi, dan kolaborasi yang kuat, saya yakin industri sawit Indonesia akan semakin tangguh, berkelanjutan, dan terus memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional maupun kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Peningkatan produktivitas juga semakin penting seiring bertambahnya kebutuhan minyak sawit untuk pasar domestik, termasuk untuk program biodiesel. Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI Heru Tri Widarto mengatakan implementasi program biodiesel B50 akan meningkatkan kebutuhan minyak sawit nasional.
Karena itu, tambahan produksi diharapkan berasal dari peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada, bukan melalui pembukaan lahan baru. Perusahaan dan pekebun didorong meningkatkan produktivitas hingga setidaknya satu ton CPO per hektare melalui penggunaan benih unggul, teknologi serta penerapan praktik budidaya yang lebih baik.
“Keberlanjutan industri sawit sangat bergantung pada kemitraan yang sehat. Jika hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar terjaga, keberlangsungan usaha juga akan makin kuat,” tutur Heru.
Pemerintah juga terus mendorong percepatan PSR, penguatan sistem ketertelusuran atau traceability, sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), serta kemitraan yang sehat antara perusahaan dan petani. Heru juga meminta pemerintah daerah memberikan kepastian usaha kepada petani swadaya melalui penetapan harga tandan buah segar (TBS).
Menurutnya, kepastian harga menjadi salah satu faktor penting untuk menciptakan iklim usaha yang sehat dan menjaga keberlanjutan perkebunan rakyat.
Seno menambahkan, penguatan kemitraan antara perusahaan dan petani juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem sawit yang sehat.
“Kita perlu mencari solusi agar hubungan antara perusahaan dan petani semakin harmonis, termasuk membahas tata kelola pabrik kelapa sawit nonkebun sehingga tercipta kepastian usaha dan harga yang lebih adil bagi petani,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Timur Rachmat Perdana Angga mengatakan Borneo Forum menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, investor, lembaga keuangan hingga masyarakat.
Menurutnya, tantangan industri sawit ke depan justru membuka ruang untuk memperkuat inovasi dan kolaborasi. Dinamika perdagangan global, perkembangan regulasi internasional, tuntutan keberlanjutan dan isu perubahan iklim perlu dijawab dengan strategi yang adaptif.
“Industri sawit masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional melalui kontribusi terhadap devisa, penyerapan tenaga kerja, pembangunan daerah, hingga pengembangan energi terbarukan,” katanya.
Ia berharap Borneo Forum 2026 dapat memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk membangun industri sawit yang tangguh, inovatif, inklusif dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan 9th Borneo Forum 2026 juga diisi Golf Tournament dan GAPKI Run yang diikuti sekitar 1.000 peserta. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan kolaborasi antarpelaku industri sawit.
Dengan potensi lahan dan produksi yang besar, Kaltim kini memiliki peluang untuk mengembangkan sawit dari sekadar komoditas menjadi kekuatan industri. Peningkatan produktivitas, hilirisasi, inovasi dan kemitraan diharapkan mampu memperbesar nilai tambah sekaligus memperluas manfaat ekonomi sawit bagi petani, masyarakat dan daerah.