Oleh: Riyawan S,Hut.
Sore itu saya baru saja pulang dari warung. Sandal masih melekat di kaki, tangan masih membawa plastik belanjaan, ketika terdengar ketukan di pintu. Di depan rumah ternyata ada petugas Sensus Ekonomi 2026 (SE2026).
Jujur, reaksi pertama saya bukan langsung senang. Malah sempat muncul rasa waswas. Maklum, sekarang banyak modus penipuan yang mengatasnamakan petugas resmi. Saya pun tidak mau sembarangan memberikan informasi usaha kepada orang yang belum jelas identitasnya.
Namun setelah melihat tanda pengenal, atribut, dan surat tugas yang dibawa, rasa curiga mulai hilang. Petugas juga menjelaskan tujuan kedatangannya dengan cukup jelas. Akhirnya saya persilakan masuk. Ternyata prosesnya jauh lebih santai dari yang saya bayangkan.
Sekitar dua puluh menit kami ngobrol soal usaha kecil yang saya jalankan bersama istri. Mulai dari jenis usaha, aktivitas penjualan, jumlah pekerja, hingga gambaran omzet. Tidak terasa seperti sedang menghadapi proses birokrasi yang rumit.
Justru setelah selesai, muncul rasa lega sekaligus bangga. Warung kecil yang selama ini saya anggap hanya sebagai usaha untuk membantu kebutuhan rumah tangga ternyata ikut masuk dalam gambaran besar perekonomian Indonesia.
Sensus Ekonomi 2026 Itu Apa dan Kenapa Usaha Kecil Ikut Didata?
Buat yang masih bertanya-tanya, Sensus Ekonomi 2026 merupakan pendataan berskala nasional yang dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi dan struktur ekonomi Indonesia. Pelaku usaha dari berbagai skala dan bidang menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Artinya, yang didata bukan hanya perusahaan besar dengan kantor megah dan puluhan bahkan ribuan karyawan. Usaha kecil seperti warung, toko, usaha rumahan, pedagang, bisnis online, hingga berbagai bentuk kegiatan ekonomi lainnya juga punya tempat dalam sensus.
Buat saya, bagian ini cukup menarik. Selama ini ada anggapan bahwa usaha kecil itu terlalu sederhana untuk diperhatikan. Padahal kalau jumlahnya mencapai jutaan dan tersebar dari kota sampai pelosok daerah, kontribusinya tentu tidak bisa dianggap remeh.
Sensus ekonomi yang dilakukan secara berkala juga membantu pemerintah mendapatkan potret kondisi dunia usaha yang lebih mutakhir. Perubahan ekonomi dalam satu dekade bisa sangat besar.
Coba lihat saja kehidupan sehari-hari. Dulu orang berjualan lebih banyak mengandalkan toko fisik. Sekarang ada marketplace, media sosial, live shopping, reseller, dropshipper, jasa titip, hingga content creator yang menghasilkan pendapatan dari berbagai platform digital. Kalau perubahan seperti ini tidak tercatat, gambaran ekonomi Indonesia bisa kurang sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Data dari sensus nantinya dapat membantu menggambarkan berbagai hal, seperti perkembangan sektor usaha, karakteristik kegiatan ekonomi, tenaga kerja, hingga kondisi usaha di berbagai wilayah. Dari sinilah pemerintah memiliki bahan untuk menyusun kebijakan berdasarkan kondisi lapangan, bukan sekadar asumsi.
Sempat Takut Data Usaha Bocor, Ternyata Kekhawatiran Itu Terjawab
Sebelum wawancara dimulai, saya sempat punya beberapa kekhawatiran. Salah satunya soal keamanan data. Wajar saja. Ketika seseorang datang dan menanyakan informasi mengenai usaha, pasti ada pertanyaan di kepala, data ini nantinya digunakan untuk apa? Apakah akan diberikan kepada pihak lain? Apakah bisa berhubungan dengan pajak atau urusan perizinan?
Petugas menjelaskan bahwa pendataan statistik memiliki ketentuan mengenai kerahasiaan data. Informasi yang diberikan masyarakat tidak semestinya diperlakukan sebagai bahan untuk kepentingan pribadi pihak tertentu. Penjelasan tersebut membuat saya lebih tenang. Saya juga akhirnya bisa menjawab pertanyaan dengan lebih terbuka.
Yang ditanyakan pun tidak terasa seperti pemeriksaan. Lebih mirip percakapan mengenai kondisi usaha. Saya bercerita bahwa penjualan kadang ramai, kadang sepi. Harga bahan baku juga sering berubah. Modal tambahan masih menjadi tantangan. Semua informasi tersebut kemudian dicatat sebagai bagian dari pendataan.
Di titik itu saya berpikir, mungkin inilah salah satu alasan mengapa masyarakat perlu ikut berpartisipasi. Kita sering mengeluh bahwa pemerintah kurang memahami kondisi usaha kecil. Namun pemerintah juga membutuhkan data dari masyarakat untuk mengetahui seperti apa keadaan sebenarnya di lapangan.
Data Akurat Hari Ini Bisa Menentukan Kebijakan Besok, Ini Alasan Kita Jangan Cuekin SE2026
Setelah mengikuti proses sensus, saya baru benar-benar memahami bahwa data ternyata punya peran besar dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya begini. Pemerintah ingin membuat program pengembangan usaha kecil di suatu daerah.
Tanpa data yang memadai, bagaimana menentukan wilayah mana yang paling membutuhkan dukungan? Bagaimana mengetahui sektor usaha yang sedang berkembang? Bagaimana menentukan bentuk pelatihan yang relevan?
Jawabannya tentu membutuhkan informasi yang cukup. Data ekonomi yang lebih lengkap dapat membantu pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan melihat perubahan dunia usaha secara lebih jelas. Dari sana, kebijakan mengenai pengembangan usaha, pelatihan, infrastruktur, hingga program ekonomi lainnya diharapkan dapat disusun dengan lebih tepat.
Tentu saja, sensus bukan berarti setiap masalah pelaku usaha akan langsung selesai. Tidak sesederhana itu. Namun, data yang baik merupakan salah satu fondasi penting untuk membuat keputusan yang lebih baik.
Bayangkan jika ribuan pedagang kecil menyampaikan kondisi mereka secara jujur. Ada yang sedang menghadapi kenaikan biaya produksi, ada yang kesulitan mendapatkan tenaga kerja, ada yang mulai beralih ke penjualan digital, dan ada pula yang justru baru merintis usaha.
Jika semua informasi tersebut dikumpulkan dan diolah secara statistik, pemerintah bisa mendapatkan gambaran yang jauh lebih lengkap mengenai denyut ekonomi di lapangan.
Tantangan di Lapangan: Tidak Semua Warga Langsung Percaya
Meski begitu, proses pendataan tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah kepercayaan masyarakat. Maraknya penipuan membuat orang semakin berhati-hati ketika didatangi seseorang yang mengaku sebagai petugas.
Ada warga yang mungkin langsung menutup pintu. Ada juga yang takut memberikan informasi karena khawatir datanya disalahgunakan. Menurut saya, rasa waspada sebenarnya bagus. Masyarakat memang jangan asal percaya kepada siapa pun yang mengaku sebagai petugas. Identitas, atribut, dan surat tugas perlu diperiksa. Jika masih ragu, masyarakat sebaiknya melakukan konfirmasi melalui kanal resmi BPS atau pihak berwenang di daerah masing-masing.
Masalah lainnya adalah waktu kunjungan. Pedagang memiliki jam kerja yang berbeda-beda. Ada yang paling sibuk pagi hari, ada yang ramai sore sampai malam. Kalau petugas datang ketika warung sedang penuh pembeli, tentu konsentrasi untuk menjawab pertanyaan bisa terganggu.
Karena itu, fleksibilitas jadwal menurut saya penting. Pendataan akan lebih nyaman jika petugas dan responden bisa menemukan waktu yang sama-sama memungkinkan. Sosialisasi juga harus terus diperkuat. Jangan hanya mengandalkan pengumuman formal yang belum tentu dibaca semua orang. Informasi tentang SE2026 bisa disampaikan melalui media sosial, komunitas, perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga kanal komunikasi yang memang biasa digunakan warga.
Yang paling penting, masyarakat perlu tahu cara membedakan petugas resmi dengan orang yang mengaku-ngaku petugas.
Setelah Data Dikumpulkan, Masyarakat Juga Perlu Tahu Hasilnya Ada satu hal yang menurut saya tidak kalah penting, masyarakat perlu melihat manfaat dari data yang sudah mereka berikan. Jangan sampai warga merasa sudah meluangkan waktu, menjawab pertanyaan, dan membantu proses sensus, tetapi setelah itu tidak pernah mengetahui hasil atau manfaatnya.
Tentu masyarakat tidak harus melihat data individu. Namun hasil statistik yang sudah diolah dapat dikomunikasikan dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami. Misalnya, bagaimana perkembangan usaha kecil di suatu wilayah, sektor ekonomi apa yang tumbuh, bagaimana perubahan pola usaha, atau seperti apa karakteristik dunia usaha Indonesia saat ini. Dengan begitu, masyarakat bisa melihat bahwa sensus bukan sekadar kegiatan mendata dari rumah ke rumah.
Ada proses panjang setelah wawancara selesai. Data dikumpulkan, diperiksa, diolah, kemudian digunakan untuk menghasilkan informasi statistik yang dapat membantu memahami kondisi ekonomi Indonesia.
Bagi saya, transparansi seperti ini juga bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan statistik berikutnya.
Sudah Didata? Jangan Anggap Sepele, Karena Satu Jawaban Bisa Jadi Bagian dari Gambaran Besar Indonesia
Ketika petugas akhirnya berpamitan, saya menutup pintu warung dengan perasaan yang berbeda. Ada rasa lega karena prosesnya sudah selesai. Tapi lebih dari itu, ada rasa bahwa usaha kecil saya ternyata punya arti dalam sebuah gambaran yang jauh lebih besar.
Satu warung tentu tidak akan mengubah perekonomian Indonesia sendirian. Satu pedagang juga mungkin hanya menyumbang sebagian kecil dari keseluruhan data. Namun statistik memang bekerja dengan mengumpulkan banyak bagian kecil menjadi satu gambaran besar. Apa yang terlihat sepele secara individu bisa menjadi sangat berarti ketika dikumpulkan bersama.
Itulah mengapa partisipasi masyarakat dalam Sensus Ekonomi 2026 tidak seharusnya dianggap sebagai formalitas belaka. Kalau petugas resmi datang, luangkan waktu untuk mengikuti prosesnya. Pastikan identitas petugas jelas, tanyakan hal yang masih membuat ragu, lalu berikan informasi sesuai kondisi sebenarnya.
Tidak perlu melebih-lebihkan usaha. Tidak perlu pula menyembunyikan kondisi karena takut. Jawab saja sesuai keadaan. Bagi saya, pengalaman disensus justru membuat saya sadar bahwa membangun Indonesia bukan selalu soal melakukan sesuatu yang besar.
Kadang kontribusinya sederhana. Membuka pintu. Meluangkan waktu sekitar dua puluh menit. Menjawab pertanyaan dengan jujur. Lalu membiarkan informasi itu menjadi bagian dari data yang membantu menggambarkan kondisi ekonomi bangsa.
Warung kecil saya mungkin hanya satu titik di antara begitu banyak usaha di Indonesia. Tapi kalau jutaan titik itu dikumpulkan, hasilnya bisa menjadi peta ekonomi yang jauh lebih lengkap. Dan dari peta itulah, semoga kebijakan yang dibuat ke depan semakin dekat dengan kenyataan di lapangan. Saya sudah disensus. Sekarang giliran kamu. Jangan anggap kecil peranmu, karena data yang akurat dimulai dari jawaban yang jujur. (*)
Sumber : prokal.co