Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Beban Berat Fanatisme: Persebaya Surabaya Puncaki Daftar Denda Super League 2025/2026

Redaksi Prokal • 2026-03-16 12:29:25

Salah satu Koreografi suporter Persebaya Surabaya saat di stadion Gelora Bng Tomo (net)
Salah satu Koreografi suporter Persebaya Surabaya saat di stadion Gelora Bng Tomo (net)

 

PROKAL.CO- Kabar kurang sedap kembali menerpa Persebaya Surabaya di tengah ketatnya persaingan kompetisi Super League 2025/2026. Klub kebanggaan warga Kota Pahlawan ini terpaksa gigit jari setelah akumulasi denda akibat ulah suporter menembus angka fantastis, yakni Rp 590 juta. Nominal tersebut menempatkan Persebaya sebagai klub dengan catatan denda terbesar musim ini, melampaui Persis Solo di posisi kedua dengan denda Rp 540 juta dan Bali United sebesar Rp 425 juta.

Kondisi finansial yang terkuras untuk membayar denda ini ironisnya terjadi saat performa anak asuh Green Force sedang naik-turun di putaran kedua. Sejak kekalahan dari Bhayangkara FC pada pertengahan Februari lalu hingga hasil imbang 2-2 melawan Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada 2 Maret 2026, stabilitas tim terus diuji. Sayangnya, laga kontra Persib tersebut justru menjadi puncak masalah ketika oknum suporter di tribun utara menyalakan petasan dan kembang api dalam jumlah masif.

Insiden di GBT itu berbuntut panjang setelah Komite Disiplin PSSI mengeluarkan keputusan tegas pada 9 Maret 2026. Berdasarkan bukti yang kuat, Persebaya dinyatakan melanggar Kode Disiplin PSSI Tahun 2025 yang berakibat pada sanksi penutupan Tribun Utara untuk satu laga kandang terdekat serta denda tambahan sebesar Rp 250 juta. Komdis PSSI bahkan memberi peringatan keras bahwa pengulangan pelanggaran serupa akan memicu hukuman yang jauh lebih berat bagi klub.

Manajemen Persebaya merespons situasi ini dengan ajakan refleksi melalui media sosial, mengusung semangat "Ayo Bersama Kita Jaga Persebaya." Seruan ini senada dengan kegelisahan yang muncul di kalangan fanbase, salah satunya akun @soccer__app yang menyoroti betapa besarnya dana yang terbuang sia-sia. Mereka menekankan bahwa fanatisme seharusnya menjadi energi, bukan beban finansial yang justru menguras kas klub yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pengembangan fasilitas atau pembinaan pemain muda.

Kini, Persebaya Surabaya berada di titik krusial untuk berbenah bersama para pendukungnya. Diskusi luas di media sosial menunjukkan adanya kesadaran baru bahwa mencintai klub berarti melindunginya dari sanksi, bukan justru merugikannya melalui tindakan anarkis atau pelanggaran aturan. Tantangan bagi Bonek ke depan adalah membuktikan bahwa loyalitas mereka bisa berjalan beriringan dengan kedisiplinan demi menjaga nama baik dan stabilitas finansial tim tercinta.(*)

Editor : Indra Zakaria