Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Bukan Sekadar Generasi Emas: Kunci Indonesia Tembus Piala Dunia 2030 Adalah Konsistensi Sistem

Redaksi Prokal • 2025-10-19 10:30:00
Marcelino Ferdinan dkk.
Marcelino Ferdinan dkk.

Langkah Timnas Indonesia harus terhenti di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia usai takluk dari Arab Saudi dan Irak. Kegagalan ini menutup mimpi jangka pendek, namun membuka lembaran baru menuju target yang lebih realistis dan ambisius: Piala Dunia 2030.

Dengan format 48 peserta dan kuota Asia yang semakin besar, Indonesia memiliki kesempatan emas. Fondasi utamanya sudah ada, yakni Generasi Emas yang saat ini menghuni skuad Garuda, dengan mayoritas pemain berada di usia produktif.

Nama-nama seperti Maarten Paes, Jay Idzes, Calvin Verdonk, Ole Romeny, Marselino Ferdinan (21 tahun), Ivar Jenner (21), dan Rizky Ridho (23) diyakini akan mencapai usia emas mereka pada turnamen 2030.

Namun, pekerjaan rumah besar menanti PSSI. Para pelatih lokal dan pengamat sepak bola sepakat, generasi emas tanpa sistem yang berkelanjutan hanyalah kilatan sesaat. “Indonesia baru bisa menembus Piala Dunia 2030 jika memiliki kesinambungan sistem, bukan sekadar generasi emas,” ujar Agam Haris, asisten pelatih Deltras FC.

Peringatan Agam ini sangat beralasan. Sejarah membuktikan, banyak negara ‘one hit wonder’ yang lolos ke Piala Dunia sekali lalu tenggelam, karena tidak memiliki fondasi yang berkelanjutan. Indonesia perlu mencontoh negara-negara yang berhasil membangun tradisi sepak bola kuat, seperti Jepang pada era 1990-an yang menerapkan program jangka panjang “100 Tahun Sepak Bola Jepang”.

Belajar dari Uzbekistan, Yordania, dan Cape Verde

Indonesia dapat mengambil pelajaran dari tiga negara yang sukses menembus level baru di sepak bola:

Uzbekistan: Sukses karena fokus pada pembinaan jangka panjang yang konsisten, stabilitas pelatih, dan pengembangan pemain muda yang berkarier di luar negeri, tanpa terlalu bergantung pada naturalisasi.

Yordania: Berhasil melalui organisasi pertahanan yang rapi, strategi realistis, dan organisasi tim yang seimbang.

Cape Verde: Menunjukkan bagaimana pemain diaspora bisa menjadi aset besar, asalkan dikelola dengan disiplin taktik dan kohesi tim yang terjaga.

Kunci suksesnya bukan pada naturalisasi instan, melainkan integrasi sistem yang berkelanjutan.

Roadmap Ideal 2030: Kombinasi dan Visi Pelatih

Kerangka timnas menuju 2030 harus merupakan kombinasi strategis antara potensi pemain muda lokal (Marselino, Ridho, Sananta) dan pemain naturalisasi di usia emas (Idzes, Paes, Romeny).

“Pondasi pemain muda lokal dan pemain naturalisasi usia emas akan jadi kombinasi ideal. Kita tidak boleh hanya mengandalkan naturalisasi semata, tapi harus menciptakan persaingan sehat di semua lini,” kata Cak Beted, suporter dari Bonek Writer Forum.

PSSI dituntut untuk:

Selektif dalam Naturalisasi: Merekrut pemain diaspora yang benar-benar berkualitas dan bisa berperan sebagai mentor.

Peran Liga Lokal: Mendorong klub-klub Indonesia berani memberikan menit bermain yang banyak bagi pemain muda.

Visi Pelatih Jangka Panjang: Menunjuk pelatih yang tidak hanya taktikus, tetapi juga mampu memadukan dua kekuatan (lokal dan diaspora) serta memahami pentingnya kontinuitas pembinaan.

Menutup perjalanan 2026, Ketua Umum PSSI Erick Thohir meminta maaf namun juga mengapresiasi sejarah yang telah dicapai timnas. “Terima kasih kepada suporter, pemain, dan ofisial atas perjuangan untuk bisa sampai Round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026. Pertama kali dalam sejarah, Indonesia bisa sampai di titik sejauh ini,” ujar Erick Thohir (13/10/2025).

Dengan waktu empat tahun yang ideal untuk berbenah, Piala Dunia 2030 yang akan digelar di enam negara (termasuk Spanyol, Portugal, dan Maroko) bukan lagi sekadar mimpi. Ini adalah momen kebangkitan yang harus diawali dengan pembangunan fondasi yang kokoh, konsisten, dan terencana dari akar rumput. (*)

Editor : Indra Zakaria