Berita mengenai kartu biru ini pertama kali dilaporkan oleh The Telegraph yang menyatakan bahwa IFAB selaku Dewan yang menentukan aturan sepak bola akan membuat pengumuman pada hari Jumat terkait penerapan kartu biru yang akan diterapkan ke sepak bola profesional.
Dikutip melalui CBS Sport Sabtu (10/2), Namun, reaksi terhadap rencana tersebut tampaknya membuat dewan mendorong keputusan untuk melakukan penundaan yang dilaporkan terjadi setelah FIFA selaku badan pengatur sepak bola dunia mengeluarkan pernyataan pada Kamis yang menentang terkait proposal ini.
FIFA mengklaim bahwa penerapan aturan itu akan sulit diterapkan dalam sepak bola tingkat profesional dan menilai penerapan itu masih prematur. “FIFA ingin mengklarifikasi bahwa laporan yang disebut ‘kartu biru’ di Tingkat elit sepak bola tidak benar dan premature,” tulis akun X FIFA Media
Lebih lanjut, “setiap uji coba seperti itu, jika diterapkan, harus dibatasi pada pengujian secara bertanggung jawab di Tingkat lebih rendah, sebuah posisi ingin diulangi oleh FIFA ketika agenda ini dibahas pada RUPS IFAB tanggal 2 maret nanti.”
Sebelumnya, rencana terkait penerapan kartu biru ini telah disetujui oleh Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional atau IFAB selaku badan yang bertanggung jawab atas hukum dan aturan dalam sepak bola pada sidang yang dilakukan di bulan November 2023.
Keputusan itu terjadi setelah melihat uji coba ‘kartu biru’ yang berhasil diterapkan dalam sepak bola amatir dan remaja di Inggris dan Wales. IFAB ingin untuk implementasi tersebut lebih lanjut di tingkat yang lebih tinggi.
Bagaimana cara kerja kartu Biru?
Seorang wasit akan mengeluarkan kartu biru kepada pemain yang melakukan pelanggaran sinis atau perbedaan pendapat.
Mereka memberikan contoh dalam hal pelanggaran yang bisa dihukum oleh kartu biru adalah pelanggaran yang dilakukan Giorgino Chiellin dengan menarik baju dari Bukayo Saka hingga dirinya terjatuh ke tanah di Final Euro 2020.
Ketika seorang pemain terkena kartu biru, maka mereka akan dikirim ke tempat ‘Sin Bins’ atau yang disebut ‘tempat penebusan dosa’ dimana mereka meninggalkan lapangan permainan selama 10 menit.
Editor : Indra Zakaria