Bayern Munchen tampaknya sudah melempar handuk. Sang juara bertahan harus merelakan Meisterschale terbang ke BayArena.
MUNICH – Bundesliga masih menyisakan tujuh spieltag lagi. Kendati begitu, Bayern Munchen sudah ngap-ngapan mengejar Bayer Leverkusen. Kekalahan 0-2 atas Borussia Dortmund dalam laga Der Klassiker di Allianz Arena, Minggu (31/3) dini hari Wita menjadi musababnya.
Alih-alih merapatkan rapat, tim asuhan Thomas Tuchel justru terjerembap di kandang. Oleh musuh bebuyutan pula.
Sang tamu berhasil membawa pulang tiga angka lewat pelesatan gol Karim Adeyemi pada menit ke-10 dan Julian Ryerson, tujuh menit jelang bubaran.
Di lain tempat, tepatnya di BayArna, Bayer Leverkusen berhasil comeback atas Hoffenheim. Tertinggal lebih dulu lewat Maximilian Beier pada menit ke-33, Die Werkself, sebutan Bayer Leverkusen, membalas melalui gol yang dicetak Robert Andrich (88’) dan Patrick Schick (90+1). Bayern kini terpaut 13 angka dari Leverkusen.
”Selamat kepada Leverkusen. Perburuan (Meisterschale atau trofi juara Bundesliga musim ini, Red) telah usai,” kata Tuchel seperti dilansir BILD.
Praktis, peluang satu-satunya Bayern musim ini hanya tersisa di Liga Champions. Itu pun bisa dibilang fifty-fifty. Sebab, Manuel Neuer dkk baru menjejak perempat final dan akan meladeni Arsenal yang sedang on fire.
Andai kans Liga Champions ikut melayang, nirgelar musim ini bakal jadi salah satu yang terburuk dari empat musim nirgelar sebelumnya. Bagaimana tidak. Dalam DFB-Pokal, misalnya, Bayern sudah tersisih sejak putaran kedua. Nirgelar 2011—2012 jadi yang ”terbaik” karena Bayern hat-trick runner-up di tiga ajang. Sementara bagi Tuchel, musim ini bisa jadi nirgelar pertama sejak musim 2015—2016. Ironisnya, kala itu dia masih melatih Dortmund, tim yang mengalahkannya kemarin.
”Aku merasa pertandingan melawan BVB (Dortmund) hari ini seperti laga persahabatan. Kami tidak punya greget (menang) sejak menit pertama sampai menit terakhir,” keluh bek kanan Bayern Joshua Kimmich kepada Sport1. (io/dns/jpg/er/k16)
Editor : Indra Zakaria