JAKARTA- PSSI telah merilis 28 nama pemain yang akan berhadapan dengan Arab Saudi dan Irak pada Kualifikasi Piala Dunia 2026, namun terdapat beberapa nama yang tak dipanggil.
Salah satunya Mees Hilgers yang kembali jadi sorotan setelah muncul kabar bahwa pemain timnas Indonesia itu tidak akan dimainkan sebelum ia memperpanjang kontraknya. Situasi ini bahkan disebut-sebut sebagai bentuk perundungan (bullying) yang dilakukan klub kepada sang pemain.
Isu ini mencuat setelah Louis Everard, Direktur VVCS (Asosiasi Pemain Kontrak Belanda), buka suara. Ia menilai kebijakan FC Twente terhadap Hilgers tidak sesuai dengan iklim kerja sehat.
Everard menyebut, Hilgers sama sekali tidak mendapatkan kesempatan tampil sampai menandatangani perpanjangan kontrak bersama klub asal Enschede itu. “Sepertinya klub menyalahgunakan kekuasaan. Faktanya, ia tidak pernah bermain sampai kontraknya diperpanjang. Ini sebenarnya sejenis perundungan (bullying). Situasi seperti ini tidak sesuai dengan lingkungan kerja yang baik,” ujar Everard, dikutip dari Voetbal Primeur dan Voetbal International.
Hilgers dalam Tekanan Kontrak
Hilgers, yang memiliki keturunan Indonesia dari ibunya yang berasal dari Manado, dikenal sebagai salah satu bek muda potensial di Eredivisie. Kariernya bersama FC Twente sebenarnya cukup menjanjikan, tetapi situasi kontrak membuatnya berada dalam posisi sulit.
Ia disebut tidak akan diturunkan dalam pertandingan resmi karena belum menyetujui perpanjangan kontrak yang ditawarkan klub. Kondisi ini memicu kritik dari berbagai pihak. Menurut Everard, tindakan semacam itu bukan hanya tidak adil, tetapi juga menekan mental pemain.
Dalam konteks sepak bola modern, klub seharusnya mengedepankan profesionalisme dan memberikan kesempatan bermain berdasarkan kualitas, bukan sekadar status kontrak.
Perspektif Klub dan Pemain
Hingga kini, FC Twente belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan tersebut. Namun, praktik menahan menit bermain pemain demi memaksa mereka memperpanjang kontrak bukanlah hal baru di dunia sepak bola.
Beberapa klub di Eropa diketahui menerapkan strategi serupa untuk menjaga aset mereka agar tidak pergi secara gratis.
Bagi Hilgers, kondisi ini jelas dilematis. Di satu sisi, ia ingin mendapatkan menit bermain untuk mengembangkan karier, apalagi situasi ini akan mempengaruhi nasibnya bersama Timnas Indonesia. Di sisi lain, tanpa tanda tangan di kontrak baru, kesempatannya tampil bersama FC Twente otomatis sudah tertutup.
Dukungan dari VVCS
Sebagai direktur VVCS, Everard menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal kasus-kasus seperti ini. Menurutnya, pemain profesional berhak bekerja dalam lingkungan yang adil tanpa ada tekanan berlebihan dari klub.
VVCS sendiri merupakan asosiasi yang berperan melindungi hak-hak pesepak bola profesional di Belanda. Dengan komentar keras Everard, publik kini menunggu langkah lanjutan apakah asosiasi tersebut akan membawa isu ini lebih jauh atau sekadar sebatas kritik terbuka. (*)
Editor : Indra Zakaria