JAKARTA – Gairah sepak bola nasional kembali memuncak seiring rencana digelarnya FIFA Series 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 23 hingga 31 Maret mendatang. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, dipastikan menjadi panggung bagi skuad Garuda untuk menjajal kekuatan tim-tim dari berbagai belahan dunia, dengan raksasa Amerika Selatan, Peru, muncul sebagai calon lawan terberat.
Kabar mengenai partisipasi Peru dalam ajang ini pertama kali mencuat melalui unggahan akun Windowintlpod di platform X, yang memperlihatkan empat bendera negara peserta yaitu Indonesia, Peru, Bulgaria, dan Saint Kitts and Nevis. Jika merujuk pada peringkat FIFA, Peru yang menduduki posisi ke-51 dunia akan menjadi ujian nyata bagi Indonesia yang kini berada di peringkat ke-122. Selain itu, Bulgaria (88) dan Saint Kitts and Nevis (154) turut melengkapi daftar tim yang diprediksi akan bertandang ke Jakarta.
Momen ini menjadi sangat krusial lantaran FIFA Series 2026 akan menandai debut perdana John Herdman di kursi kepelatihan Timnas Indonesia. PSSI menegaskan bahwa fokus utama pada turnamen kali ini bukanlah sekadar mengejar status juara, melainkan memantau proses pembentukan tim dan adaptasi taktik di bawah kepemimpinan pelatih asal Inggris tersebut. Anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga, menyatakan bahwa federasi ingin melihat sejauh mana perkembangan tim saat menghadapi lawan dengan peringkat di bawah 100 dunia.
Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, mengonfirmasi bahwa PSSI sebenarnya telah mengantongi daftar final negara peserta. Meski belum dirilis secara mendetail, pengumuman resmi hanya tinggal menunggu waktu. Ajang ini juga menjadi kesempatan bagi keempat negara yang absen di Piala Dunia 2026 tersebut untuk mendulang poin dan memperbaiki posisi mereka dalam ranking dunia.
Dengan bermain di hadapan publik sendiri, dukungan penuh suporter di SUGBK diharapkan mampu memberikan suntikan semangat bagi skuad Garuda. Turnamen ini dipandang lebih dari sekadar laga persahabatan, melainkan panggung evaluasi strategis bagi Timnas Indonesia dalam menatap kalender internasional yang semakin padat ke depannya. (*)
Editor : Indra Zakaria