Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ironi Piala Afrika 2025: Maroko Sabet Gelar Tim Fair Play di Tengah Badai Kontroversi Final "Teraneh"

Redaksi Prokal • 2026-01-20 12:15:00
Maroko dinobatkan sebagai Tim Fair Play AFCON 2025 oleh CAF, meski final melawan Senegal diwarnai kontroversi, tuduhan kecurangan, dan drama panjang akibat keputusan VAR. (Instagram/@afcon2025_)
Maroko dinobatkan sebagai Tim Fair Play AFCON 2025 oleh CAF, meski final melawan Senegal diwarnai kontroversi, tuduhan kecurangan, dan drama panjang akibat keputusan VAR. (Instagram/@afcon2025_)

 

RABAT – Gelaran Piala Afrika (AFCON) 2025 berakhir dengan catatan yang memicu perdebatan sengit di kancah sepak bola dunia. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) secara resmi menobatkan tuan rumah Maroko sebagai Tim Fair Play, sebuah keputusan yang dianggap ironis mengingat panasnya drama dan tuduhan kecurangan yang menyelimuti laga puncak.

Final yang mempertemukan Maroko dan Senegal di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, disebut-sebut sebagai salah satu laga paling kontroversial dalam sejarah kompetisi. Maroko harus merelakan trofi jatuh ke tangan Senegal setelah kalah 1-0 lewat gol di babak tambahan waktu. Namun, skor akhir hanyalah sebagian kecil dari cerita panjang kekacauan di lapangan.

Drama 17 Menit dan Aksi Walk Out

Laga memanas ketika wasit Jean Jacques Ndala memberikan penalti kepada Maroko pada menit ke-98 setelah tinjauan VAR atas pelanggaran terhadap Brahim Diaz. Keputusan ini memicu kemarahan kubu Senegal, karena sebelumnya wasit secara kontroversial membatalkan gol mereka. Pelatih Senegal bahkan sempat memerintahkan pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes, yang menyebabkan laga terhenti selama 17 menit.

Puncak drama terjadi saat laga dilanjutkan; Brahim Diaz yang maju sebagai eksekutor mencoba melakukan tendangan panenka, namun bola justru melambung lemah dan ditangkap dengan mudah oleh kiper Senegal. Insiden ini memicu spekulasi apakah Diaz sengaja gagal atau terjepit tekanan mental yang luar biasa.

Tuduhan "Pengaturan" Sepanjang Turnamen

Melansir ESPN, Selasa (20/1/2026), penghargaan Fair Play bagi Maroko terasa sangat kontras dengan persepsi publik. Sepanjang turnamen, tim Singa Atlas kerap dituding "mengatur keadaan" sebagai tuan rumah.

Keluhan dari tim lawan bermunculan, mulai dari fasilitas latihan yang dianggap dipersulit, pengambilan handuk kiper lawan oleh pengumpul bola, hingga keputusan wasit yang dinilai condong menguntungkan tuan rumah. Narasi negatif ini membayangi langkah teknis Maroko yang sebenarnya cukup gemilang di lapangan.

Meski dihujani kritik, CAF tetap berpegang pada Pasal 8 Peraturan Piala Afrika untuk memberikan trofi Fair Play kepada Maroko. Keputusan ini seolah menjadi pesan bahwa secara administratif dan regulasi, Maroko dianggap paling disiplin.

Bagi para kritikus, gelar ini justru menjadi noda bagi sportivitas Afrika, sementara bagi pendukung Maroko, ini adalah pengakuan atas ketenangan mereka menghadapi tekanan hebat sebagai tuan rumah. Apapun versinya, Final AFCON 2025 akan selalu dikenang sebagai turnamen di mana batas antara strategi, sportivitas, dan keberuntungan menjadi sangat kabur. (*)

Editor : Indra Zakaria