LIVERPOOL — Performa Liverpool pada musim 2025/2026 menjadi anomali besar yang memicu sorotan tajam di jagat sepak bola Inggris. Berstatus sebagai jawara bertahan Premier League, The Reds justru tampil limbung hingga sempat terlempar dari zona empat besar pada paruh musim dingin. Tekanan hebat pun kini tertuju pada pundak Arne Slot yang dituntut segera mengembalikan identitas kemenangan di Anfield.
Kontras performa ini terlihat jelas jika membandingkan statistik pertahanan mereka. Jika pada musim sebelumnya Liverpool tampil solid dengan hanya kebobolan dua gol dalam tujuh laga pembuka, musim 2025/2026 menjadi mimpi buruk bagi lini belakang. Hingga pertengahan musim, gawang yang dikawal Alisson Becker telah bobol sebanyak 35 kali—sebuah catatan merah yang hanya lebih baik dari Manchester United di jajaran delapan besar klasemen.
Masalah Liverpool kian pelik dengan penyakit "gol telat" yang menghantui mereka. Tercatat ada sepuluh gol yang bersarang di gawang mereka setelah menit ke-80, yang mengakibatkan delapan poin krusial melayang begitu saja. Alarm bahaya ini sempat memaksa Arne Slot melakukan perubahan radikal pasca kekalahan memalukan 1-4 dari PSV Eindhoven di kompetisi Eropa pada November lalu. Slot memilih pendekatan taktik yang lebih pragmatis dan berhati-hati untuk menghentikan tren negatif.
Strategi "aman" tersebut memang sempat membawa Liverpool mencatatkan 13 laga tak terkalahkan. Namun, gaya bermain yang terlalu defensif justru menumpulkan daya dobrak tim, terutama saat menghadapi tim-tim promosi seperti Leeds United dan Burnley yang berakhir dengan hasil imbang yang merugikan posisi klasemen. Beruntung, dalam lima laga terakhir, keseimbangan mulai ditemukan. Liverpool sukses menyapu empat kemenangan dengan tiga clean sheet, termasuk kemenangan impresif 1-0 di kandang Sunderland yang memutus rekor tak terkalahkan lawan di Stadium of Light.
Di tengah upaya kebangkitan kolektif, penurunan performa Mohamed Salah tetap menjadi tanda tanya besar. Setelah musim lalu menjadi motor serangan dengan kontribusi gol mencapai 55 persen, musim ini bintang asal Mesir tersebut tampak kesulitan menemukan sentuhan terbaiknya. Hingga saat ini, Salah baru menyumbangkan empat gol dan enam assist, atau hanya berkontribusi sekitar 24 persen bagi tim—sebuah statistik terendah sejak ia bergabung pada 2017. Kembalinya ketajaman Salah di sisa musim akan menjadi faktor penentu apakah Liverpool mampu menyelamatkan musim ini dengan finis di zona Liga Champions atau tidak. (*)
Editor : Indra Zakaria