AMSTERDAM — Mantan pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, kembali mengenang masa-masa singkat namun berkesannya saat menukangi Skuad Garuda. Dalam sebuah wawancara bersama media Belanda, VoetbalPrimeur, legenda sepak bola Belanda ini menyebut pengalamannya di Indonesia sebagai sesuatu yang unik dan sulit untuk dilupakan.
Berbicara di sela peresmian Cruyff Court di Amsterdam-Noord, Kluivert mengaku sangat terkesan dengan atmosfer sepak bola di tanah air. Baginya, hiruk-pikuk dukungan suporter dan antusiasme masyarakat Indonesia terhadap tim nasional merupakan fenomena yang jarang ia temui di tempat lain. Gairah besar penduduk Indonesia yang hidup untuk sepak bola memberikan kesan mendalam secara emosional baginya.
Kluivert sebelumnya ditunjuk sebagai pelatih kepala pada Januari 2025 untuk menggantikan Shin Tae-yong. Ia memikul ekspektasi besar publik untuk membawa Indonesia melaju jauh di babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Namun, perjalanannya tidak berjalan mulus setelah sejumlah hasil negatif di Putaran ke-4 kualifikasi membuat mimpi Indonesia menuju panggung dunia harus terhenti.
Kegagalan tersebut berujung pada keputusan PSSI untuk mengakhiri kerja sama dengannya pada Oktober 2025. Meski masa jabatannya berakhir lebih cepat dari kontrak semula yang berdurasi dua tahun, Kluivert menegaskan tetap bangga dengan kerja keras yang telah dilakukan para pemain selama di bawah arahannya.
Pelatih berusia 49 tahun itu mengungkapkan bahwa sebenarnya ia memiliki keinginan untuk melanjutkan proyek yang sudah berjalan. Namun, ia menyadari sepenuhnya bahwa keputusan federasi harus dihormati demi masa depan sepak bola Indonesia. Kluivert pun memastikan bahwa meski target besar tidak tercapai, ia tetap memiliki hati yang hangat dan kecintaan yang tulus bagi Indonesia.
Saat ini, Kluivert belum memutuskan pelabuhan barunya di dunia kepelatihan meskipun namanya sempat dikaitkan dengan raksasa Belanda, Ajax Amsterdam. Baginya, tekanan besar dan dinamika unik sepak bola nasional Indonesia telah menjadi episode berharga yang akan selalu ia hargai dalam perjalanan karier profesionalnya. (*)
Editor : Indra Zakaria