Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Noda Hitam di Premier League: Chelsea dan Burnley Bersatu Kutuk Serangan Rasisme Terhadap Fofana dan Mejbri

Indra Zakaria • 2026-02-23 08:00:00

Wesley Fofana (kanan), diserang netizen dengan kata-kata rasis setelah diusir wasit di laga Burnley kontra Chelsea.
Wesley Fofana (kanan), diserang netizen dengan kata-kata rasis setelah diusir wasit di laga Burnley kontra Chelsea.

 

LONDON – Sepak bola Inggris kembali tercoreng oleh aksi memuakkan di jagat maya. Meski teknologi dan kampanye kemanusiaan terus berkembang, rasisme rupanya masih menjadi borok yang sulit sembuh. Terbaru, Chelsea dan Burnley merilis pernyataan keras mengutuk pelecehan rasial daring yang menyasar Wesley Fofana dan Hannibal Mejbri usai duel panas kedua tim yang berakhir imbang 1–1, Sabtu (21/2/2026).

Ketegangan di lapangan hijau yang berujung kartu merah bagi Fofana ternyata berbuntut panjang ke ranah pribadi. Bek asal Prancis itu diusir wasit Lewis Smith pada menit ke-72 setelah menerima kartu kuning kedua akibat melanggar Mejbri. Tak lama setelah peluit panjang berbunyi, ruang pesan pribadi (direct message) Fofana dibanjiri ujaran kebencian.

Melalui unggahan di Instagram Story pribadinya, Fofana membagikan tangkapan layar pesan-pesan rasis tersebut dengan nada getir. "2026, masih sama saja, tidak ada yang berubah. Orang-orang ini tidak pernah dihukum. Anda membuat kampanye besar melawan rasisme, tetapi tidak ada yang benar-benar melakukan apa pun," tulisnya menyindir efektivitas kampanye antirasial selama ini.

Chelsea: Kami Jijik dan Terkejut

Manajemen Chelsea langsung pasang badan untuk pemainnya. Dalam pernyataan resminya, klub asal London Barat itu mengaku "jijik" dengan pelecehan yang dialami Fofana dan menegaskan tidak ada ruang bagi perilaku diskriminatif dalam sepak bola.

"Chelsea Football Club sangat terkejut dengan pelecehan rasis daring yang ditujukan kepada Wesley Fofana. Hal ini sama sekali tidak dapat diterima dan bertentangan dengan semua yang kami perjuangkan sebagai klub. Kami akan bekerja sama dengan pihak berwenang dan platform terkait untuk mengidentifikasi pelaku dan mengambil tindakan sekeras mungkin," bunyi pernyataan tegas dari kubu The Blues.

Nasib serupa dialami bintang tim tamu, Hannibal Mejbri. Gelandang Burnley ini juga menjadi sasaran serangan rasial dan memilih untuk menyuarakan kekecewaannya di media sosial. "Ini tahun 2026 dan masih ada orang seperti itu. Didiklah diri Anda dan anak-anak Anda," tulis Mejbri.

Merespons hal tersebut, kubu The Clarets bergerak cepat dengan melaporkan insiden ini kepada Meta (perusahaan induk Instagram), pihak Premier League, hingga kepolisian. Burnley menegaskan komitmen mereka untuk menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap segala bentuk diskriminasi.

"Semua orang di Burnley FC muak. Tidak ada tempat untuk hal ini dalam masyarakat kita dan kami mengutuknya tanpa syarat. Klub tetap teguh pada pendirian untuk melindungi pemain kami dari kebencian ini," tulis pernyataan resmi klub.

Skandal ini menjadi pengingat pahit bagi otoritas sepak bola Inggris bahwa di balik kemegahan kompetisi terbaik dunia, perlindungan terhadap kesehatan mental dan martabat pemain dari serangan rasial masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar di tahun 2026. (*)

Editor : Indra Zakaria