Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rekor Terburuk dalam Sejarah EFL: Sheffield Wednesday Terdegradasi Saat Musim Masih Menyisakan 13 Laga

Redaksi Prokal • 2026-02-23 09:30:00

Pemain dan staf pelatih Sheffield Wednesday terdegradasi lebih cepat dari Championship musim ini. (Dok. Sheffield)
Pemain dan staf pelatih Sheffield Wednesday terdegradasi lebih cepat dari Championship musim ini. (Dok. Sheffield)

 

SHEFFIELD – Perjalanan pahit Sheffield Wednesday di kompetisi Championship musim ini resmi berakhir lebih awal. Kekalahan tipis 1-2 dalam laga derby kontra Sheffield United di Bramall Lane menjadi vonis mati bagi klub berjuluk The Owls tersebut, sekaligus memastikan mereka turun kasta ke League One musim depan.

Kekalahan ini membuat Sheffield Wednesday terpaut 41 poin dari zona aman klasemen. Dengan hanya maksimal 39 poin yang bisa diraih dari 13 pertandingan tersisa, secara matematis mustahil bagi mereka untuk mengejar ketertinggalan. Catatan ini menjadi sejarah kelam sebagai degradasi paling dini yang pernah terjadi dalam sejarah English Football League (EFL).

Nasib buruk Wednesday sebenarnya sudah terendus sejak awal musim akibat krisis finansial yang sistemik. Klub memulai kompetisi dengan beban berat setelah dijatuhi sanksi pengurangan 18 poin oleh otoritas liga. Masalah semakin meruncing ketika gaji pemain dan staf terlambat dibayarkan pada musim panas lalu, yang berujung pada embargo pendaftaran pemain dan eksodus besar-besaran pemain pilar.

Memasuki bulan Oktober, situasi semakin tidak terkendali setelah klub resmi masuk dalam status administrasi, yang memicu sanksi pengurangan poin tambahan. Meskipun proses pengambilalihan klub sempat diumumkan pada Desember, ketidakpastian proses akuisisi yang berlarut-larut hingga kini membuat stabilitas tim terganggu. Sepanjang musim, Wednesday tercatat hanya mampu mengamankan satu kemenangan dan sempat mengalami rentetan 10 kekalahan beruntun yang menghancurkan mental skuad.

Meskipun terpuruk di dasar klasemen, loyalitas para suporter tetap tidak luntur. Ribuan fans tetap memadati stadion untuk memberikan dukungan, termasuk pada laga krusial di Bramall Lane. Walau sempat diwarnai aksi protes terhadap manajemen lama, pendukung setia tetap berharap klub kesayangan mereka bisa segera bangkit dari keterpurukan manajemen yang merusak performa di lapangan.

Kini, fokus utama pihak administrator adalah memastikan dana operasional cukup untuk merampungkan kompetisi hingga akhir musim. Sheffield Wednesday dipaksa menelan pelajaran mahal bahwa krisis di ruang direksi adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan prestasi olahraga. Harapan kini tertumpu pada selesainya proses akuisisi agar fondasi klub dapat ditata ulang demi kembali bersaing di level yang lebih tinggi pada masa depan. (*)

Editor : Indra Zakaria