PROKAL.CO- Gelombang kekerasan berskala nasional menyapu Meksiko setelah tewasnya pemimpin tertinggi Kartel Jalisco New Generation (CJNG), Nemesio Oseguera Cervantes alias "El Mencho", dalam operasi militer akhir pekan lalu. Kekacauan ini memicu kekhawatiran global, mengingat Meksiko tengah bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 dalam hitungan bulan.
Hanya dalam waktu 24 jam setelah kematian El Mencho, sedikitnya 25 personel Garda Nasional Meksiko dilaporkan gugur dalam baku tembak sengit. Wilayah Jalisco kini berstatus Siaga Merah, sementara asap hitam dari kendaraan yang dibakar mengepul di atas langit belasan negara bagian lainnya. Video yang beredar luas memperlihatkan anggota kartel bersenjata berat berpatroli di jalanan kota, menunjukkan jangkauan serangan yang terorganisir secara nasional.
Ancaman Nyata bagi Kota Tuan Rumah
Kekerasan ini menghantam langsung jantung persiapan Piala Dunia. Guadalajara, ibu kota Jalisco yang dijadwalkan menjamu empat pertandingan, kini menjadi episentrum kerusuhan. Selain itu, Mexico City dan Monterrey—yang juga memegang jadwal pertandingan—terus memantau situasi keamanan yang kian tak menentu.
Dr. Javier Eskauriatza, pakar hukum kriminal dari University of Nottingham, menjelaskan bahwa kekerasan ini adalah bentuk "pamer kekuatan" yang wajib dilakukan oleh kartel agar tidak terlihat lemah setelah pemimpin mereka tumbang. "Masalahnya, situasi keamanan yang spiral seperti ini bisa menjadi sangat sulit dikendalikan oleh pemerintah," ungkapnya kepada BBC Sport.
Dampak internasional terasa seketika. Pemerintah Amerika Serikat menginstruksikan warganya di Jalisco untuk tetap berada di dalam ruangan, sementara Kanada telah membatalkan seluruh penerbangan menuju Puerto Vallarta. Aplikasi pelacak penerbangan menunjukkan puluhan pesawat internasional melakukan putar balik (return to base) demi menghindari wilayah udara yang dianggap berisiko.
Meski demikian, pakar kriminologi dari UWE Bristol, Dr. Karina Garcia-Reyes, menilai risiko bagi turis saat ini berada pada level moderat. Ia memperkirakan otoritas setempat akan mampu meredam situasi asalkan tidak ada operasi militer susulan yang memicu kemarahan kartel lebih lanjut.
Menariknya, para ahli menyebut kartel sebenarnya memiliki kepentingan ekonomi agar Piala Dunia tetap berjalan damai. Dengan kekayaan mencapai lebih dari £10 miliar, CJNG memiliki jaringan bisnis legal seperti hotel dan restoran.
"Mereka bukan orang bodoh. Mereka tahu Piala Dunia membawa turis asing yang menghabiskan banyak uang, dan itu menguntungkan sistem ekonomi di mana mereka juga beroperasi," tambah Dr. Eskauriatza.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA telah dihubungi untuk memberikan pernyataan resmi terkait nasib pertandingan musim panas mendatang. Kini, mata dunia tertuju pada Presiden Claudia Sheinbaum; apakah pemerintah mampu memulihkan ketertiban sebelum jutaan suporter sepak bola mendarat di Meksiko, ataukah "perang suksesi" pasca-El Mencho akan memaksa FIFA mencari lokasi alternatif di Amerika Serikat atau Kanada. (*)
Editor : Indra Zakaria