LIVERPOOL – Di balik hingar-bingar Liga Primer Inggris yang serba cepat dan menuntut fisik, terselip sebuah kisah tentang empati dan penghormatan mendalam terhadap keyakinan. Jürgen Klopp, sosok yang baru saja mengakhiri masa baktinya yang legendaris di Liverpool, pernah membagikan sebuah rahasia kecil namun bermakna besar mengenai bagaimana ia mengelola keberagaman di ruang ganti timnya. Pada tahun 2020, pelatih asal Jerman ini mengungkapkan betapa pentingnya bagi dirinya untuk memahami kebutuhan spiritual para pemainnya, terutama mereka yang memeluk agama Islam.
Klopp menyoroti ritual pembersihan diri atau wudu yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian umat Muslim dalam situasi tertentu. Dengan penuh kesadaran, ia memutuskan untuk memangkas sesi pemanasan timnya sebanyak dua menit lebih awal setiap kali pertandingan akan dimulai. Keputusan ini diambil semata-mata untuk memberikan ruang bagi para pemain seperti Mohamed Salah dan Sadio Mane kala itu untuk melakukan persiapan batin dan fisik sesuai tuntunan Islam sebelum memasuki lapangan hijau.
Bagi Klopp, memberikan waktu dua menit tersebut bukanlah sebuah kerugian taktis, melainkan bentuk dukungan terhadap sesuatu yang sangat fundamental bagi kehidupan para pemainnya. Ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak keberatan memberikan kelonggaran waktu tersebut demi hal yang dianggap sakral oleh anak asuhnya. Sikap ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Klopp tidak hanya berhenti pada strategi gegenpressing di lapangan, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan yang paling pribadi.
Lebih jauh lagi, Klopp mengungkapkan rasa bangganya memiliki skuad yang multikultural. Baginya, keberadaan figur-figur seperti Salah dan Mane bukan hanya soal kontribusi gol atau assist, melainkan peran mereka sebagai "duta" yang baik bagi agama Islam. Melalui perilaku dan dedikasi mereka, pandangan dunia terhadap komunitas Muslim di Inggris dan global mengalami pergeseran positif. Klopp percaya bahwa keberagaman inilah yang justru memperkuat ikatan emosional dan mental dalam timnya. (*)
Editor : Indra Zakaria