PROKAL.CO- Peluncuran jersey terbaru Timnas Indonesia hasil kolaborasi dengan Kelme langsung memicu gelombang reaksi dari netizen di media sosial. Meski baru saja resmi diperkenalkan, beragam komentar mulai dari kritik tajam hingga pembelaan terhadap identitas desain menghiasi linimasa, menciptakan ruang diskusi yang hangat di kalangan pencinta sepak bola nasional.
Salah satu kritik yang cukup mencolok datang dari akun @utdfo**sid yang secara terang-terangan menyebut desain kali ini mengalami penurunan kualitas dibandingkan dengan koleksi Erspo 2025. Menurutnya, jersey sebelumnya memiliki detail yang lebih bersih, potongan yang pas di badan, serta logo Garuda yang tampak lebih gagah. Ia menilai desain Kelme terasa kurang maksimal, bahkan sempat terlintas kesan seperti jersey latihan saat pertama kali melihatnya.
"Jujur saja, Kelme ini downgrade parah. Detail Erspo 2025 lebih clean dan fitnya bagus. Kelme? I don't know, kureng aja," tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Senada dengan hal itu, komikus kenamaan @siju*i turut memberikan tanggapan dengan menyebut bahwa mungkin publik hanya butuh waktu untuk terbiasa. Ia juga menyoroti perbedaan karakteristik antara brand internasional dan lokal. Menurutnya, brand internasional cenderung menggunakan desain template, berbeda dengan brand lokal yang biasanya lebih bebas dan berani dalam bereksperimen dengan sisi desain.
"Minim kreativitas. Jersey full printing yang notabene percetakan rumahan juga bisa bikin yang serupa. Corak norak, kurang elegant. Jersey home kaya jersey badminton, jersey away kaya jersey vietnam," cuit @mahens*ja.
Di sisi lain, perdebatan mengenai batasan kreativitas brand global juga mencuat. Akun @sryt*n menjelaskan bahwa bekerja sama dengan apparel internasional seperti Kelme, Nike, atau Adidas memang memiliki konsekuensi berupa keterbatasan dalam melakukan kustomisasi desain sesuai keinginan federasi. Hal ini berbeda saat bekerja sama dengan brand lokal di mana pihak Timnas bisa lebih leluasa meminta model tertentu.
"Membandingkan dengan Erspo tentu beda level. Di sana kita bisa leluasa request desain, sementara brand internasional punya standar sendiri yang tidak bisa kita ubah sesuka hati," ungkapnya.
Dari sisi ekonomi, akun @masukk***sID memberikan perspektif yang lebih pragmatis. Ia menilai bahwa bagi federasi, aspek kerja sama yang menghasilkan nilai komersial jauh lebih penting daripada sekadar urusan estetika. Menurutnya, desain yang bagus tidak akan berarti banyak jika pada akhirnya tingkat penjualan versi aslinya tidak memberikan keuntungan bagi pengembangan tim.
Meski desain merah dinilai tidak terlalu buruk, sebagian netizen masih mempertimbangkan faktor harga yang dipatok oleh Kelme. Namun, bagi para kolektor seperti @ty**_, urusan desain bukan menjadi penghalang utama. "Kolektor mah tetap gas saja," tulisnya, menunjukkan bahwa antusiasme untuk memiliki identitas terbaru skuad Garuda tetap tinggi di kalangan penggemar setia. (*)
Editor : Indra Zakaria