ZENICA – Di balik gegap gempita keberhasilan Bosnia-Herzegovina menyingkirkan Italia dan mengunci tiket Piala Dunia 2026, terselip sebuah kisah pilu yang menguras air mata. Kapten sekaligus legenda hidup Bosnia, Edin Džeko, tak kuasa menahan emosi saat mendedikasikan pencapaian bersejarah ini untuk memori kelam masa kecilnya di tengah kecamuk perang.
Sesaat setelah adu penalti yang dramatis di Stadion Bilino Polje, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB, Džeko berdiri di tengah lapangan dengan mata berkaca-kaca. Penyerang gaek itu tidak merayakan kemenangan dengan gaya sombong, melainkan dengan sebuah pengakuan yang menyayat hati tentang masa lalunya yang penuh darah. Džeko mengenang sebuah sore yang mengubah hidupnya selamanya saat ia masih berusia enam tahun di Sarajevo. Sebuah momen di mana nyawanya terselamatkan hanya karena kemarahan seorang ibu.
Baca Juga: Tragedi Zenica: Kutukan Italia Berlanjut, Bosnia Ukir Sejarah baru, Turki Akhiri Penantian 24 Tahun
"Saya ingin mendedikasikannya untuk teman-teman saya yang, ketika saya berusia enam tahun, biasa saya ajak keluar setiap sore untuk bermain sepak bola di jalan," ujar Džeko dengan suara bergetar.
Malam itu, Džeko kecil sangat ingin bermain bola seperti biasanya. Namun, takdir berkata lain melalui insting sang ibu yang melarangnya keluar rumah hari itu.
"Dan suatu hari ibu saya marah (melarang saya keluar), dan sebuah bom meledak di jalan, dan semua teman saya meninggal," kenang Džeko di hadapan para jurnalis yang terdiam seribu bahasa. Bagi Džeko, setiap langkahnya di lapangan hijau, setiap gol yang ia cetak, dan keberhasilan membawa negaranya ke Piala Dunia 2026 adalah bentuk penghormatan bagi teman-teman kecilnya yang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk tumbuh besar.
Kemenangan atas Italia bukan sekadar urusan taktik atau statistik bagi skuad Bosnia. Bagi generasi yang tumbuh besar dalam kepungan perang seperti Džeko, sepak bola adalah pelarian sekaligus penebusan atas masa kecil yang terenggut.
Kini, sang kapten telah menuntaskan janjinya. Di saat Italia meratapi kegagalan mereka, Džeko membawa beban sejarah dan duka bangsanya ke panggung dunia di Amerika Utara. Ia membuktikan bahwa dari reruntuhan bom dan air mata masa lalu, sebuah bangsa bisa bangkit dan berdiri tegak di puncak dunia. (*)
Editor : Indra Zakaria