Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Akui Gagal Bawa Italia ke Piala Dunia, Staf Ahli Timnas Putuskan Lepas Jabatan

Indra Zakaria • 2026-04-03 12:17:14
Gianluigi Buffon
Gianluigi Buffon

 

ROMA – Getaran hebat yang melanda sepak bola Italia pasca-kekalahan memilukan dari Bosnia-Herzegovina mencapai puncaknya. Melalui sebuah pernyataan yang sarat akan emosi, air mata, dan rasa tanggung jawab, salah satu sosok kunci di balik layar Timnas Italia akhirnya resmi menanggalkan jabatannya. Langkah ini diambil hanya berselang singkat setelah Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, memutuskan untuk mundur dari kursinya.

Pengunduran diri ini diakui sebagai sebuah tindakan mendesak yang datang langsung dari lubuk hati terdalam, tepat semenit setelah peluit panjang di Zenica membuyarkan mimpi Italia menuju Piala Dunia 2026.

"Spontan air mata dan rasa sakit di hati saya, yang saya tahu saya rasakan bersama kalian semua. Sekarang, saya merasa bebas untuk melakukan apa yang saya anggap sebagai tindakan bertanggung jawab," tulisnya dalam pesan perpisahan yang menyentuh.

Baca Juga: Legenda AC Milan Paolo Maldini Kecam Kemerosotan Timnas Italia: Tanpa Identitas, Italia Bukan Lagi Italia

Meski meyakini bahwa semangat tim dan kekompakan telah terbangun kuat bersama Rino Gattuso dan seluruh kolaborator dalam waktu yang singkat, ia menyadari satu kenyataan pahit: target utama membawa Gli Azzurri kembali ke panggung Piala Dunia telah kandas. Kegagalan ini dianggap sebagai utang besar kepada publik Italia yang harus dibayar dengan pengunduran diri demi memberikan jalan bagi visi baru.

"Adalah tepat untuk memberi kebebasan kepada mereka yang datang setelah saya untuk memilih orang yang dianggap paling tepat," tambahnya.

Selama masa baktinya, sosok ini tidak hanya fokus pada tim senior, tetapi juga meletakkan fondasi panjang melalui sinergi tim muda hingga jenjang U-21. Ia mendorong politik meritokrasi dan spesialisasi pekerjaan sebagai cara untuk melahirkan talenta masa depan Italia yang lebih kompetitif. Keterlibatan tokoh-tokoh berpengalaman dalam proyek jangka menengah dan panjang menjadi warisan terakhir yang ia tinggalkan bagi pusat pelatihan Coverciano.

Baginya, mewakili tim nasional adalah gairah yang telah menduduki pikirannya sejak kecil. Meski berakhir dengan epilog yang menyakitkan, ia memandang pengalaman intens ini sebagai pelajaran berharga yang akan selalu ia simpan di dalam hati.

"Terserah kepada pihak yang berwenang untuk menilai keabsahan pilihan-pilihan ini. Saya menyimpan semuanya di hati dengan rasa syukur. Forza Azzurri selalu," pungkasnya, menutup salah satu bab paling kelam sekaligus paling jujur dalam sejarah modern sepak bola Italia. (*)

Editor : Indra Zakaria
#gianluigi buffon