MANCHESTER – Kabar mengejutkan datang dari panggung sepak bola Inggris. Setelah satu dekade menorehkan tinta emas dan mendominasi Premier League, kebersamaan antara Josep "Pep" Guardiola dan Manchester City dilaporkan akan segera berakhir. Juru taktik asal Spanyol tersebut dikabarkan bakal angkat kaki dari Etihad Stadium begitu musim kompetisi ini usai, sebuah keputusan yang menandai akhir dari salah satu dinasti paling mematikan dalam sejarah sepak bola modern.
Puncak kejayaan pria berkepala plontos itu di Manchester terjadi pada musim 2022-2023. Kala itu, ia sukses membawa The Citizens merengkuh treble bersejarah dengan mengawinkan trofi Premier League, Piala FA, dan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub, mengangkat piala berkuping lebar nan prestisius, Liga Champions. Tidak berhenti di sana, dominasi Guardiola kian sahih saat ia mencetak rekor fantastis dengan menjuarai Premier League empat kali berturut-turut dari musim 2020-2021 hingga 2023-2024.
Selama sepuluh tahun bermukim di Manchester, warisan yang ditinggalkan Guardiola jauh melampaui deretan trofi yang berjejer di lemari klub. Mantan pelatih Barcelona itu telah mengubah total identitas permainan City dan menetapkan standar baru di tanah Britania lewat taktik possession-based football yang dipadukan dengan intensitas tekanan yang sangat tinggi.
Di bawah asuhan magisnya, pemain-pemain kelas dunia seperti Kevin De Bruyne, Bernardo Silva, Phil Foden, hingga predator lini depan Erling Haaland berhasil mencapai potensi tertinggi mereka. Bahkan, gelandang jangkar andalannya, Rodri, sukses menobatkan diri sebagai pemenang Ballon d'Or setelah menjadi metronom sekaligus poros utama dalam sistem taktik yang dibangun oleh Guardiola.
Meskipun performa Manchester City dinilai sedikit mengalami penurunan dalam dua musim terakhir, dominasi mereka di atas lapangan hijau tetap sulit dibantah oleh para rival. Fakta bahwa City masih sanggup mengamankan dua trofi domestik—meski di tengah musim yang dianggap publik kurang maksimal—justru menjadi bukti sahih betapa tingginya standar yang telah ditanamkan oleh Guardiola di klub tersebut.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi atau kepastian mengenai ke mana pelatih jenius itu akan melabuhkan karier selanjutnya setelah melepas jabatan di Etihad. Namun, satu hal yang pasti, kepergiannya akan meninggalkan lubang besar yang sangat sulit dicari penggantinya. Ketika hari perpisahan itu benar-benar tiba, Manchester City harus bersiap melepas sosok arsitek yang tidak hanya memberikan mereka kejayaan, tetapi juga yang telah membentuk era paling sukses dan disegani sepanjang sejarah berdirinya klub. (*)
Editor : Indra Zakaria