LIVERPOOL – Bek tengah asal Prancis, Ibrahima Konate, akhirnya merilis pernyataan resmi yang sangat emosional setelah dipastikan menyudahi masa baktinya bersama Liverpool per 30 Juni 2026. Melalui surat terbuka yang menyentuh hati, mantan pemain RB Leipzig ini menumpahkan seluruh isi hatinya mengenai perjalanan lima tahun yang penuh dinamika, trofi, hingga duka mendalam yang sempat ia lalui di Merseyside.
Konate membuka pesannya dengan mengenang kembali momen awal kedatangannya ke Anfield saat masih menjadi pemain muda yang sarat akan ambisi besar. Baginya, mengenakan jersi legendaris The Reds merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa dan tak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.
“Kepada Liverpool, lima tahun yang lalu, saya datang sebagai pemain muda dengan mimpi besar. Hari ini, saya pergi dengan kenangan yang akan tetap bersama saya seumur hidup. Mewakili klub ini adalah suatu kehormatan. Kami telah berbagi momen-momen luar biasa bersama... Suka dan duka, trofi, tantangan, persahabatan seumur hidup,” tulis Konate.
Namun, di balik kegemilangan prestasi yang ia ukir di lapangan—termasuk mempersembahkan trofi Liga Inggris musim lalu—Konate juga merefleksikan periode-periode kelam penuh air mata yang harus ia hadapi secara personal maupun tim selama beberapa tahun terakhir. Ia secara khusus menyebutkan rasa sakit mendalam saat skuad Liverpool kehilangan Diogo Jota, serta ujian berat saat sang ayah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa pada tahun ini.
Baca Juga: Sebut Manajemen Liverpool Ceroboh, Carragher: Kehilangan Konate Itu Pukulan Telak!
“Momen-momen yang memilukan yang akan selalu kita kenang, tak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan saudara kita, Diogo. Kehilangan ayah saya tahun ini juga salah satu periode terberat dalam hidup saya, tetapi bahkan di tengah kesulitan, komitmen saya terhadap klub ini tidak pernah berubah. Selama momen-momen tersulit, saya memberikan segalanya untuk lambang klub ini,” ungkapnya dengan penuh ketegaran.
Tak lupa, bek tangguh bertubuh jangkung ini melayangkan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran klub, mulai dari rekan setim, jajaran pelatih, staf, hingga para loyalis di tribune penonton yang selalu menjadi bahan bakar semangatnya setiap kali merumput.
“Kepada rekan satu tim, pelatih, staf, dan semua orang di balik layar, terima kasih telah membantu saya berkembang setiap hari. Dan untuk para suporter, terima kasih atas cinta, energi, dan dukungan luar biasa kalian. Anfield benar-benar tempat yang istimewa, dan bermain di hadapan kalian adalah sesuatu yang tidak pernah saya anggap remeh,” tambahnya.
Di akhir suratnya, Konate juga menyelipkan sebuah penyesalan terbesar. Ia mengaku sangat sedih karena tidak menyadari bahwa laga terakhir yang ia mainkan di musim ini ternyata menjadi momen pemungkasnya berseragam merah, sehingga ia tidak sempat mengucapkan salam perpisahan secara langsung di hadapan puluhan ribu pasang mata pendukung setia Liverpool.
“Saya sangat sedih karena tidak mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kalian semua di pertandingan terakhir. Saat itu, saya tidak tahu bahwa itu akan menjadi kali terakhir saya mengenakan jersey ini di hadapan kalian. Dari lubuk hatiku yang terdalam, terima kasih untuk semuanya. Aku mencintai kalian semua dan akan membawa Liverpool bersamaku ke mana pun aku pergi. Ini bukan perpisahan yang mudah, tetapi ini saatnya untuk tantangan baru dan babak baru. Sampai jumpa lagi, Insyaallah,” tutup Konate seraya berpamitan. (*)
Editor : Indra Zakaria