VANCOUVER — Kemenangan bersejarah Kanada yang sukses melibas Qatar dengan skor telak 6-0 dalam ajang Piala Dunia 2026 harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Di balik pesta enam gol tanpa balas tersebut, skuad The Canucks terpaksa kehilangan gelandang andalan mereka, Ismael Kone, yang mengalami cedera mengerikan hingga harus langsung dilarikan ke ruang operasi.
Tragedi itu terjadi pada paruh kedua pertandingan di Stadion BC Place yang dipadati 52.479 penonton. Saat sedang menguasai bola, gelandang berusia 24 tahun tersebut dihantam tekel horor yang sangat keras oleh pemain Qatar, Assim Madibo. Kone langsung terkapar di lapangan hijau dan tidak mampu melanjutkan pertandingan.
Pelatih kepala Kanada, Jesse Marsch, membeberkan bahwa dirinya sudah mengetahui tingkat keparahan cedera tersebut sejak detik pertama insiden terjadi. Pasalnya, hantaman keras tersebut menimbulkan suara mengerikan yang bergaung hingga ke pinggir lapangan. “Itu benar-benar terjadi di depan kami, dan semua orang bisa mendengar tulangnya patah,” ujar Jesse Marsch dengan nada bergetar, mengutip dari laporan Sportsnet.
Bagi Marsch, insiden memilukan ini mengingatkannya pada memori kelam saat pemain Kanada lainnya, Tajon Buchanan, mengalami cedera serupa pada ajang Copa America 2024 lalu. “Hatimu hancur untuk Kone. Semua orang sedikit terguncang dengan kejadian ini, karena sifat cederanya dan juga karena Ismaël adalah bagian besar dari hati tim kami,” tutur Marsch emosional.
Insiden berdarah itu sempat memicu keributan massal di lapangan. Pemain dari kedua tim terlibat aksi saling dorong karena emosi yang tersulut, sementara tim medis bergerak cepat memberikan pertolongan pertama sebelum akhirnya menandu Kone keluar lapangan. Akibat pelanggaran brutal tersebut, Assim Madibo langsung diganjar kartu merah oleh wasit dan mendapat kecaman keras dari suporter tuan rumah.
Hasil pemeriksaan medis menyatakan bahwa pemain bernomor punggung delapan itu mengalami patah tulang tibia dan fibula sekaligus. Cedera fraktur ganda ini mengharuskannya naik ke meja operasi dan diperkirakan bakal absen dari dunia sepak bola selama empat hingga lima bulan ke depan.
Kehilangan Kone yang telah mencatatkan 42 penampilan bersama tim nasional jelas menjadi pukulan telak. Namun, rekan-rekannya di timnas Kanada bertekad mengubah kesedihan ini menjadi bahan bakar motivasi. Nathan Saliba, pemain muda yang masuk menggantikan Kone, mengakui situasi psikologis di lapangan saat itu sangat berat.
“Saya hanya harus melakukannya. Rasanya seperti melempar bayi ke laut dan dia harus belajar berenang. Kurang lebih seperti itu,” ungkap Saliba menggambarkan tekanan besar yang dihadapinya. Meski masuk dalam situasi darurat, Saliba langsung memberikan dampak instan. Hanya enam menit setelah menginjak rumput lapangan, ia sukses melesakkan gol indah melalui eksekusi tendangan bebas yang membawa Kanada unggul 4-0. Usai mencetak gol, Saliba memilih tidak merayakan golnya dengan meledak-ledak, melainkan memberikan penghormatan emosional untuk sang rekan setim yang sedang berjuang di rumah sakit.
“Saya hanya ingin melakukan sesuatu untuknya dan menunjukkan bahwa ini bukan sekadar pertandingan lalu kami melanjutkan hidup seperti biasa. Saya tidak merasa ingin merayakan, saya hanya memikirkan teman saya,” ucap Saliba seraya membentuk angka delapan dengan jarinya dan mengangkat tinggi-tinggi jersey milik Ismael Kone ke arah tribun penonton. (*)
Editor : Indra Zakaria