Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kerasnya Piala Dunia 2026: Tujuh Pelatih dan Petinggi Federasi Mundur hingga Dipecat

Redaksi Prokal • Jumat, 3 Juli 2026 | 10:30 WIB
Ronald Koeman
Ronald Koeman

PROKAL.CO- Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung mimpi bagi banyak negara, tetapi juga menjelma menjadi kuburan bagi karier para peracik strategi. Hingga bergulirnya babak 16 besar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tercatat sedikitnya tujuh pelatih dan petinggi federasi telah resmi meninggalkan jabatan mereka akibat gagal memenuhi ekspektasi besar di lapangan hijau.

Evaluasi radikal ini membuktikan betapa kejamnya tekanan di turnamen sepak bola terakbar sejagat raya tersebut. Begitu tim tersingkir, surat pemecatan atau pengunduran diri langsung menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Nama yang paling mengejutkan publik adalah legenda sepak bola Belanda, Ronald Koeman. Sesaat setelah langkah De Oranje dihentikan oleh Maroko lewat drama adu penalti di babak gugur, Koeman langsung memilih angkat kaki dari kursi pelatih kepala.

Melalui akun media sosial pribadinya, Koeman menyatakan enggan mencari kambing hitam atas kegagalan tersebut. "Semalam saya memutuskan mengakhiri masa jabatan sebagai pelatih kepala tim nasional Belanda," tulis Koeman secara terbuka. "Kami semua bermimpi menciptakan sejarah di Piala Dunia. Itu tidak terjadi dan tidak ada yang lebih kecewa daripada saya."

Nasib serupa juga menimpa juru taktik Republik Ceko, Miroslav Koubek. Sempat dielu-elukan karena berhasil membawa Ceko kembali ke Piala Dunia sejak absen 20 tahun silam, Koubek memilih mundur setelah timnya terbenam di dasar klasemen Grup A dengan hanya mengantongi satu poin. Selain faktor performa, ia mengaku muak dengan tekanan dan rumor miring dari media masssa.

Dari daratan Britania, Steve Clarke juga menyudahi masa baktinya bersama Skotlandia. Meski berhasil mencatatkan rekor sejarah dengan 36 kemenangan sejak menukangi tim pada 2019, kegagalan melaju dari fase grup membuat perjalanannya harus berakhir. Clarke mengakui momen perpisahan dengan anak-anak asuhnya adalah bagian paling emosional dalam kariernya.

Kursi Panas di Asia dan Amerika Latin

Beralih ke zona Asia, pahlawan Korea Selatan di Piala Dunia 2002, Hong Myung-bo, turut meletakkan jabatannya. Skuad Taegeuk Warriors terpaksa angkat koper lebih awal di fase grup setelah menelan kekalahan pahit dari Meksiko dan Afrika Selatan. Dalam konferensi persnya, Hong menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh suporter setia Korea Selatan.

"Saya ingin meminta maaf dengan tulus kepada masyarakat yang selalu mencintai dan mendukung sepak bola Korea," ungkap Hong emosional. "Saya memutuskan mundur sebagai pelatih kepala tim nasional Korea Selatan."

Gelombang pengunduran diri yang lebih masif terjadi di Timur Tengah. Kegagalan Arab Saudi yang finis sebagai juru kunci Grup H memicu mundurnya sang Presiden Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF), Yasser Al Misehal. Datang dengan status tim kejutan yang sempat menumbangkan Argentina di edisi lalu, hasil buruk kali ini dirasa sangat menampar wajah federasi.

"Kegagalan tim nasional lolos ke babak berikutnya merupakan hasil yang jauh dari ambisi kami," kata Yasser Al Misehal dengan nada kecewa. "Saya memikul tanggung jawab penuh dan memutuskan tidak melanjutkan jabatan ini."

Sementara itu di Amerika Latin, pelatih Ekuador, Sebastian Beccacece, menjadi korban setelah timnya didepak Meksiko 2-0 di babak 32 besar. Padahal, Ekuador sempat mencuri perhatian publik saat berhasil menjegal raksasa Jerman di fase grup.

"Kami tidak mampu mencapai pencapaian yang kami janjikan. Hari ini giliran saya mengucapkan selamat tinggal," tutur Beccacece dalam salam perpisahannya. "Saya sebenarnya ingin melanjutkan pekerjaan ini, tetapi saya memahami bagaimana dunia sepak bola bekerja."

Rekor Pemecatan Paling Ekstrem di Tunisia

Kasus yang paling mencengangkan dan bernada ironis terjadi pada tim nasional Tunisia. Pelatih mereka, Sabri Lamouchi, secara tragis dipecat oleh federasi hanya setelah mendampingi tim dalam satu pertandingan di putaran final Piala Dunia 2026. Keputusan ekstrem ini diambil setelah Tunisia dibantai habis-habisan oleh Swedia dengan skor telak 5-1 pada laga pembuka grup. Lamouchi, yang baru menukangi tim pada Januari 2026, kini tercatat dalam sejarah kelam sebagai pelatih tercepat yang didepak dalam satu edisi Piala Dunia. Posisi lowong tersebut kini langsung diambil alih oleh mantan pelatih Arab Saudi, Herve Renard.

Padahal, Tunisia datang dengan statistik mentereng tanpa kebobolan selama babak kualifikasi. Namun, di putaran final mereka justru menjadi lumbung gol dan kalah di seluruh laga dengan total kebobolan 12 gol.

Kerasnya turnamen di Amerika Utara ini diprediksi masih akan memakan korban baru. Seiring berjalannya fase gugur yang semakin krusial, daftar pelatih yang kehilangan pekerjaan dipastikan akan terus bertambah jika tim-tim besar lainnya gagal memenuhi target emas mereka. (*)

Editor : Indra Zakaria
#ronald koeman