PROKAL.CO- Bagi sebagian besar pencinta sepak bola di Polandia, sebuah hutan terpencil di pinggiran kota bisa berubah menjadi ring tinju raksasa. Di sana, puluhan pria berbadan kekar, terlatih dalam bela diri campuran (MMA), berkumpul untuk satu tujuan: baku hantam demi kehormatan klub. Namun, ada satu aturan sakral yang mereka pegang teguh, yaitu bertarung dengan tangan kosong.
Inilah lanskap subkultur hooligans modern Polandia yang diikat oleh sebuah piagam rahasia bernama Perjanjian Poznan (Poznan Pact). Lahir di awal tahun 2000-an, perjanjian antarpemimpin suporter garis keras ini melarang keras penggunaan senjata tajam, mengharamkan serangan kepada warga sipil, dan mewajibkan petarung berhenti menyerang jika musuh sudah KO. Bagi mereka, ini adalah olahraga, gaya hidup atletis, dan kode kehormatan tertinggi.
Namun, jika Anda melangkah kaki ke kota Krakow, seluruh aturan suci itu robek menjadi berkeping-keping.
Ketika "Kota Pisau" Menolak Tunduk
Di saat firma-firma besar dari Warsawa, Poznan, hingga Gdansk menyepakati gencatan senjata taktis tersebut, dua kelompok suporter paling radikal di Krakow memilih jalan pembangkangan. Mereka adalah Wisla Sharks (pendukung Wisla Krakow) dan Jude Gang (pendukung Cracovia). Kedua musuh bebuyutan dalam laga bertajuk Holy War (Perang Suci) ini secara tegas menolak ikut serta dalam Perjanjian Poznan.
Konsekuensi dari penolakan tersebut mengubah Krakow menjadi kota yang mencekam bagi subkultur suporter, hingga melahirkan julukan mengerikan: The City of Knives (Kota Pisau).
Tanpa terikat oleh Perjanjian Poznan, hooligans di Krakow tidak lagi mengenal batas antara rivalitas sepak bola dan kejahatan jalanan. Parang (machete), pisau lipat, pemukul bisbol, hingga kapak kecil menjadi barang wajib yang diselipkan di balik jaket saat mereka berpatroli mengamankan distrik perumahan yang mereka klaim secara sepihak.
Dikucilkan Nasional, Menjelma Jadi Kartel
Keputusan untuk terus menggunakan senjata tajam membuat hooligans Krakow dipandang hina oleh komunitas hooligans nasional Polandia. Kelompok dari kota lain mencap mereka sebagai pengecut yang tidak memiliki nyali untuk bertarung satu lawan satu dengan tangan kosong. Akibatnya, kelompok Krakow dikucilkan dan jarang sekali mendapatkan undangan untuk agenda ustawka (tarung hutan) resmi yang terorganisir.
Namun, alih-alih melunak, pengucilan ini justru mendorong Wisla Sharks dan Jude Gang melintasi batas terjauh. Perkelahian suporter biasa berevolusi menjadi perang teritorial gangster yang sesungguhnya. Mereka mengendalikan pasar gelap narkoba, bisnis keamanan ilegal, hingga aksi pemerasan di sudut-sudut kota Krakow.
Sistem "mata ganti mata" berlaku mutlak di kota ini. Jika seorang anggota Cracovia terluka akibat sabetan parang, maka serangan balasan dari kubu Wisla tidak akan berupa pukulan mentah, melainkan sebuah eksekusi berencana. Salah satu puncak kegilaan ini terjadi pada tahun 2011, saat pemimpin teras suporter Cracovia, "Maniek", tewas mengenaskan setelah dikepung dan dihujani puluhan luka bacok oleh belasan anggota Wisla Sharks di siang bolong.
Bara dalam Sekam di Balik Modernisasi Stadion
Kini, dengan intervensi masif dari unit anti-gangster kepolisian Polandia (CBSP) serta penerapan teknologi pengenalan wajah (facial recognition) yang ketat, tribun stadion di Krakow sudah jauh lebih steril dan aman bagi turis maupun penonton kasual.
Namun, bagi mereka yang memahami anatomi kota ini, ketenangan di dalam stadion hanyalah fatamorgana. Di jalanan belakang yang remang-remang, di lorong-lorong kompleks perumahan abu-abu pinggiran Krakow, penolakan terhadap Perjanjian Poznan puluhan tahun lalu telah meninggalkan warisan dendam yang terlanjur mengakar. Selama parang masih dianggap sebagai simbol keberanian di Krakow, "Perang Suci" mereka tidak akan pernah benar-benar selesai. (*)
Editor : Indra Zakaria