Balogun sebelumnya diganjar kartu merah langsung saat AS bersua Bosnia dan Herzegovina pada 2 Juli lalu. Berdasarkan regulasi saklek FIFA, ia semestinya absen di laga babak 16 besar. Namun, secara mengejutkan FIFA mencabut sanksi tersebut sehingga Balogun bisa tampil saat AS ditekuk Belgia 4-1 pada Selasa (7/7) kemarin. Pelatih Belgia, Rudi Garcia, bahkan sempat menyindir keputusan itu bak lelucon "April Mop".
Langkah abu-abu FIFA ini memicu kemarahan para legislator Uni Eropa. Sebanyak 35 anggota Parlemen Eropa, dipimpin oleh Barry Andrews, Lara Wolters, dan Niels Fuglsang, menuding adanya intervensi politik tingkat tinggi di balik keputusan tersebut.
“Mengubah aturan terkait sanksi kartu merah di tengah turnamen merupakan sebuah aib dan bentuk penyimpangan terhadap keadilan,” bunyi pernyataan resmi bersama para anggota Parlemen Eropa seperti dikutip dari Associated Press (AP), Kamis (9/7).
Para legislator secara gamblang mengendus adanya campur tangan langsung dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang diduga melakukan lobi khusus kepada Gianni Infantino demi menyelamatkan sang striker.
“Sekali lagi, kita melihat Infantino dan FIFA menyerah pada tuntutan pemerintahan Trump. Keindahan olahraga terletak pada aturan yang tidak memihak dan transparan. Ketika tekanan politik menentukan siapa yang boleh bermain, maka rasa keadilan itu telah hilang,” tegas mereka.
Sebagai langkah konkret, parlemen mendesak seluruh asosiasi sepak bola nasional di negara-negara Uni Eropa (UEFA) untuk bersatu menekan Komite Etik FIFA agar segera memeriksa Infantino.
Penyelidikan independen ini dirasa mendesak demi menguak apakah ada pelanggaran asas netralitas politik dalam tubuh FIFA, termasuk menyelidiki motif di balik rencana pemberian penghargaan FIFA Peace Prize kepada Donald Trump yang belakangan santer terdengar.
Di sisi lain, FIFA langsung membantah tuduhan miring tersebut. Otoritas tertinggi sepak bola dunia itu berdalih bahwa pemutihan kartu Balogun murni merupakan keputusan independen dari Komite Disiplin FIFA setelah meninjau ulang rekaman pertandingan, bukan karena adanya intervensi dari individu tertentu.
Kendati demikian, desakan dari Eropa ini diyakini akan mencoreng kredibilitas Piala Dunia 2026 yang tengah berlangsung, sekaligus menaruh kepemimpinan Gianni Infantino di ujung tanduk atas tuduhan mencederai nilai-nilai fair play. (*)
Editor : Indra Zakaria