Langkah Aman Tanpa Solusi: Kembalinya Roberto Mancini dan Krisis Identitas Sepak Bola Italia

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 11:30 WIB
Roberto Mancini
Roberto Mancini
 

ROMA — Sepak bola Italia kembali diselimuti atmosfer kekacauan khas yang penuh dinamika politik. Penolakan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) terhadap penunjukan Andrea Pirlo sebagai pelatih tim nasional berbuntut panjang, memicu pengunduran diri Paolo Maldini, hingga akhirnya berujung pada penunjukan kembali Roberto Mancini sebagai juru taktik Gli Azzurri.

Di bawah kendali Presiden FIGC yang baru, Giovanni Malago, penunjukan Mancini dipandang sebagai pilihan paling aman. Rekam jejaknya saat membawa Italia menjuarai EURO 2021 serta hubungannya yang harmonis dengan pimpinan federasi menjadikan juru taktik berusia 61 tahun itu sebagai "jaring pengaman" instan di tengah krisis.

Namun, di balik label keputusannya yang dinilai aman, penunjukan Mancini justru mendulang kritik tajam dari berbagai pihak. Keputusan ini dinilai berlawanan dengan janji perombakan total pascagegagalan mengenaskan Italia menembus putaran final Piala Dunia. Mengangkat kembali sosok lama dinilai sekadar mengulang formula lama tanpa memberikan transformasi mendasar yang sangat dibutuhkan Calcio.

Problem utama sepak bola Italia saat ini bukan sekadar sosok di kursi pelatih, melainkan krisis identitas struktur yang mengakar dari atas hingga bawah. Pendekatan pragmatis dan enggan mengambil risiko yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas kini justru dinilai menghambat kemajuan Gli Azzurri di kancah modern. Penunjukan Mancini diprediksi hanya akan memberikan hasil jangka pendek—seperti sekadar lolos ke Piala Dunia—tanpa pernah membawa Italia melompat ke level permainan yang lebih tinggi.

Pilihan FIGC untuk kembali "mendaur ulang" pelatih lama juga mencerminkan fenomena umum yang kerap dikritik di kompetisi Serie A. Keberanian untuk mengambil jalur baru sebenarnya bisa diunjukkan apabila federasi berani memercayakan posisi ini kepada figur muda dengan ide-ide segar seperti Thiago Motta atau Raffaele Palladino.

Meskipun para pelatih muda tersebut belum memiliki rekam jejak mentereng di level internasional, penunjukan mereka setidaknya akan memberikan sinyal kuat bahwa sepak bola Italia siap melakukan revolusi. Dengan menunjuk kembali Mancini, FIGC dinilai telah melewatkan momentum emas untuk melakukan perubahan hakiki dan memilih bertahan di zona nyaman yang kian tertinggal dari kancah sepak bola dunia. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
roberto mancini