MANCHESTER – Atmosfer Theatre of Dreams berubah menjadi panggung pilu bagi Manchester United. Menjamu Tottenham Hotspur di Old Trafford, Setan Merah harus puas berbagi angka 1-1 setelah kemenangan yang sudah di depan mata sirnah di masa injury time. Bagi kubu tuan rumah, hasil imbang ini tak ubahnya sebuah kekalahan menyakitkan.
Hasil minus ini kian mempertegas awal musim kelam MU di bawah asuhan Michael Carrick. Hanya sanggup mengoleksi enam poin dari enam pertandingan pertama, ini menjadi start terburuk Setan Merah di Premier League dalam 40 tahun terakhir—sejak kali terakhir mencatatkan torehan seburuk ini pada musim 1986.
Ejekan dan sorakan cemooh (booing) dari pendukung sendiri pun menggema sepanjang laga hingga peluit panjang dibunyikan. Padahal, MU sempat berada di atas angin dan berada di jalur yang benar untuk mengamankan kemenangan kedua mereka musim ini. Gol pembuka dari Bryan Mbeumo sukses melambungkan harapan publik tuan rumah.
Angin segar makin berembus kencang setelah Spurs terpaksa bermain dengan 10 orang. Pemain pengganti Tottenham, Rodrigo Bentancur, diganjar kartu merah langsung akibat melakukan aksi tandukan terhadap bek MU, Luke Shaw.
Namun, keunggulan jumlah pemain dan skor justru gagal dimanfaatkan oleh anak-anak Manchester. Bencana akhirnya datang pada menit ke-92. Striker Spurs, Dominic Solanke, sukses menjebol gawang tuan rumah sekaligus membuyarkan tiga poin yang sudah di depan mata.
Ini menjadi kali kedua musim ini MU harus kehilangan poin berharga akibat kebobolan di masa injury time. Catatan ini juga memperpanjang rekor buruk mereka yang gagal menang meski lawan bermain dengan 10 orang, menyusul hasil serupa saat ditekuk Manchester City bulan lalu.
Usai laga, manajer MU, Michael Carrick, tidak menutupi rasa kecewanya atas reaksi keras para suporter di Old Trafford. Namun, ia memilih untuk bersikap dewasa dan memahami frustrasi yang dirasakan pendukungnya.
"Jelas, ini menyakitkan. Anda tahu, ini sangat menyakitkan. Memang tidak menyenangkan untuk dilalui, tetapi terkadang Anda harus melewatinya. Begitulah adanya. Ini sebenarnya berasal dari niat baik (harapan tinggi suporter), jadi saya memahaminya," ujar Carrick dalam konferensi pers pascapertandingan dikutip dari ESPN.
Carrick menegaskan bahwa kegagalan mengunci kemenangan ini menjadi sinyal bahwa timnya memiliki PR besar dalam hal mengelola pertandingan, terutama saat sudah unggul jumlah pemain maupun skor.
"Sudah beberapa kali terjadi dengan cara yang berbeda, tentunya dua gol telat yang tercipta ke gawang kami membuat kami kehilangan dua kemenangan. Kita perlu bermain lebih baik dalam menyelesaikan pertandingan, itu sudah pasti, begitu kita berada di posisi yang bagus," tegasnya.
Carrick menuntut anak asuhnya untuk belajar mempertahankan kendali permainan dan tidak lagi ceroboh memberi celah bagi lawan untuk mencuri gol di menit-menit krusial. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co